SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) berupaya memperkenalkan durian Cempaga ke masyarakat luas. Pasalnya durian asli Kecamatan Cempaga itu dinilai layak karena memiliki rasa yang ciri khas. 

"Kami kemarin menutup tahun 2025 bersama lintas instansi di Kotim mewarnai dengan kegiatan makan durian bersama di kebun durian Desa Jemaras, Kecamatan Cempaga," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kotim, Ady Candra, Jumat, 2 Januari 2026.

Menurutnya, memperkenalkan potensi yang dimiliki Kotim juga salah satu tugas Kominfo. Oleh sebab itu dirinya berinisasi membawa sejumlah kepala instansi di Kotim. 

Ia mengungkapkan kegiatan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga sarana memperkenalkan potensi durian lokal yang khas dari daerah tersebut kepada publik yang lebih luas.

“Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 31 Desember 2025,  memang dadakan, tapi niatnya untuk silaturahmi sekaligus memperkenalkan durian asli Desa Jemaras, sekaligus juga ingin menutup tahun dengan yang manis-manis, " ucapnya. 

Ia menambahkan bahwa durian asal Desa Jemaras masih sering keliru diklaim berasal dari wilayah lain ketika dipasarkan di luar daerah. Sehingga perlu diluruskan agar masyarakat luas mengetahui Kotim juga memiliki durian yang tak kalah enak dengan daerah lain. 

“Ini yang ingin kita luruskan. Durian Jemaras punya ciri khas, varian banyak, dan rasanya autentik. Kita ingin branding durian Cempaga agar bisa bersaing dan memberi nilai tambah bagi petani serta pariwisata Kotim,” jelas Ady.

Wakil Bupati Kotim, Irawati, turut mengapresiasi inisiatif Diskominfo Kotim tersebut dan mengajak masyarakat memanfaatkan musim durian dengan berkunjung ke Desa Jemaras yang dikenal sebagai desa kuliner durian musiman. 

“Di sini ada aturan durian tidak boleh dipanjat. Jadi yang dimakan benar-benar durian jatuh yang masak di pohon. Sensasinya berbeda dan kualitasnya terjaga,” ujar Irawati.

Pengakuan soal kualitas durian Jemaras juga disampaikan Kepala Bandara H. Asan Sampit, Abdul Haris. Ia menilai durian jenis otak udang berwarna oranye khas Jemaras memiliki cita rasa yang lebih legit dibanding durian montong meski ukurannya lebih kecil.

 “Rasanya memang enak sekali. Bahkan saya yang biasanya membatasi makan durian, di sini sampai khilaf,” tuturnya sambil tersenyum.

Abdul Haris mendorong agar durian Jemaras tidak hanya dijual dalam bentuk buah segar, tapi juga diolah menjadi produk bernilai tambah seperti pancake durian agar lebih mudah dipasarkan sebagai oleh-oleh khas Kotim. 

“Kalau diolah, ini bisa jadi oleh-oleh khas Kotim bernilai tinggi. Potensinya besar, sayang kalau tidak dikembangkan,” katanya.

Kesan positif juga datang dari Kepala KSOP Kelas III Sampit, Hotman Siagian, yang untuk pertama kalinya menikmati durian langsung di kebun. 

“Rasanya mantap, tidak ada duanya. Sangat direkomendasikan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Desa Jemaras, Moju Betti Suheru, menjelaskan bahwa musim durian merupakan berkah tahunan bagi masyarakat setempat. 

“Selain meningkatkan pendapatan warga, pemasaran durian juga mudah karena banyak tengkulak datang langsung ke kebun. Biasanya mereka datang malam sampai pagi, ambil langsung ke kebun. Ada yang dijual ke Sampit, ada juga ke Kasongan dan Palangka Raya,” ujarnya.

Moju menambahkan, durian Jemaras memiliki varietas unggulan seperti otak udang dan mentega yang terkenal dengan rasa legit dan tekstur lembut.

“Perbedaan karakter duri dan rasa menjadi ciri khas durian Cempaga yang sulit ditiru daerah lain,” tutupnya. (DEVIANA/j)