BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Wadai Bingka bukan sekadar kue tradisional khas Banjar. Dalam tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun di lingkungan Kesultanan Banjar, bingka dikenal sebagai salah satu kue istimewa yang dahulu disajikan secara eksklusif di lingkungan istana.
Hal tersebut diperkuat oleh Syarifuddin, tokoh museum dan sejarawan lokal Kalimantan Selatan, dalam bukunya Urutan Prosesi Adat Banjar. Ia menjelaskan bahwa bingka termasuk dalam bagian dari Wadai 41, yakni kumpulan 41 jenis kue yang wajib hadir dalam sejumlah prosesi adat Banjar di lingkungan Kesultanan.
Menurut Syarifuddin, bentuk khas bingka yang menyerupai bunga dengan enam hingga delapan kelopak bukan tanpa makna. Bentuk tersebut terinspirasi dari bunga teratai atau lotus yang memiliki filosofi mendalam dalam khazanah budaya Banjar.
Dalam penjelasannya, teratai melambangkan kesucian hati dan keanggunan. Meski tumbuh di lumpur, bunga teratai tetap bersih dan indah. Filosofi ini menjadi pengingat agar manusia senantiasa menjaga akhlak di tengah berbagai ujian kehidupan.
"Pada masa lalu bingka tidak disajikan sembarangan. Kue ini menjadi simbol penghormatan tuan rumah kepada tamu, terutama dalam jamuan penting dan prosesi adat di lingkungan bangsawan," jelasnya.
Dalam tradisi pernikahan Banjar, bingka kerap dihadirkan sebagai bagian dari hantaran maupun jamuan keluarga besar. Kelopak-kelopak yang menyatu di bagian tengah melambangkan persatuan dan keharmonisan dalam rumah tangga.
Teksturnya yang lembut dan rasa yang legit juga memiliki makna simbolik. Syarifuddin menyebut, rasa manis pada bingka mencerminkan harapan agar hubungan antar keluarga maupun pasangan selalu harmonis dan tidak mudah retak.
Melalui kajian sejarah dan tradisi lisan yang ia dokumentasikan, Syarifuddin menegaskan bahwa bingka bukan hanya warisan kuliner, tetapi juga representasi nilai budaya, etika, dan simbol sosial masyarakat Banjar yang terus hidup hingga kini. (SABRIANOOR/Y)









