BORNEONEWS, Sampit – Di tengah rutinitas yang padat dan tekanan pekerjaan yang tak jarang menguras energi, menemukan ruang jeda menjadi kebutuhan yang kian penting. Bagi sebagian warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), ketenangan itu kini bisa ditemukan dalam sebuah wadah kaca kecil melalui terrarium, miniatur hutan yang menenangkan mata sekaligus pikiran.
Itulah yang dirasakan Ade Risma, seorang peserta workshop terrarium yang digelar oleh Borneo Aquatic. Ia datang bukan sekadar ingin mencoba hal baru, tetapi juga mencari cara untuk sejenak lepas dari penatnya aktivitas sehari-hari.
Ade mengaku awalnya hanya mendapat informasi dari seorang teman. Tanpa banyak ekspektasi, ia memutuskan untuk ikut. Namun pengalaman pertamanya itu justru membuka perspektif baru tentang alam yang selama ini terasa jauh dari kehidupan.
"Awalnya tahu ada kegiatan ini dari teman yang jadi panitia. Saya tertarik karena belum pernah coba membuat terrarium dan memang suka lihat yang hijau-hijau seperti taman," ujarnya, Minggu, 26 April 2026.
Di dalam ruangan workshop, Ade bersama peserta lain memperhatikan setiap tahapan pembuatan terrarium. Mulai dari menyusun lapisan batu sebagai drainase, menambahkan kain penyaring, lapisan arang, hingga media tanam. Tahap terakhir menjadi momen paling menarik yakni menata lumut dan tanaman kecil ke dalam gelas kaca, seolah merangkai hutan dalam versi mini.
Bagi Ade, pengalaman itu bukan sekadar keterampilan baru, tetapi juga perjalanan emosional. Melihat warna hijau yang hidup di dalam kaca memberikan rasa tenang yang sulit dijelaskan. Ia pun baru menyadari bahwa tanaman-tanaman sederhana di sekitar rumah ternyata memiliki nilai estetika bahkan potensi ekonomi.
"Kegiatan ini sangat menyenangkan. Saya mendapat ilmu baru dan ternyata tanaman endemik di sekitar kita punya nilai jual tinggi," tandasnya.
Perwakilan Borneo Aquatic Mutia Yuliza menjelaskan, terrarium merupakan solusi praktis bagi masyarakat modern yang tidak memiliki banyak waktu untuk merawat taman. Dengan perawatan yang relatif mudah, terrarium bisa menjadi alternatif menghadirkan suasana alam di dalam kamar atau ruang kerja.
Lebih dari sekadar dekorasi, terrarium juga diyakini memiliki manfaat psikologis. Interaksi dengan unsur alam, meski dalam skala kecil, mampu membantu meredakan stres. Ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menyebutkan bahwa salah satu stres rilis adalah dengan dekat dengan alam.
"Karena hutan itu penghasil oksigen yang terbesar. Dan bayangkan kalau tidak ada hutan, betap polusinya. Lalu, salah satu stres rilis dalam tubuh itu ketika oksigen banyak terpapar masuk ke dalam tubuh kita. Dan memang banyak juga studi melihat kalau orang-orang yang bersentuhan dengan alam stres rilisnya bisa jauh lebih baik. Jadi salah satu cara paling mudahnya dengan terrarium," kata Mutia.
Menariknya, workshop tersebut tidak hanya berbicara soal hobi, tetapi juga membuka wawasan tentang potensi ekonomi dari kekayaan alam lokal. Tanaman-tanaman yang selama ini tumbuh liar di sekitar rumah, seperti pakis dan lumut, ternyata memiliki nilai jual tinggi di pasar internasional.
Sebagai eksportir tanaman hias, Borneo Aquatic telah menjangkau pasar global. Produk mereka tidak hanya diminati di Asia Tenggara, tetapi juga merambah Afrika, Amerika Serikat, hingga Eropa. Salah satu komoditas unggulan adalah tanaman aquatik endemik Kalimantan, seperti Bucephalandra.
Perusahaan ini sendiri berawal dari hobi sang pendiri, Erwin Syahputra, yang sejak 2003 menekuni dunia tanaman hias. Seiring waktu, hobi tersebut berkembang menjadi usaha yang mampu menyerap tenaga kerja dan membuka peluang ekonomi baru.
Tak hanya mengandalkan hasil alam, mereka juga memiliki farm di Sampit yang mengembangkan teknik budidaya dengan propagasi kultur jaringan. Tujuannya adalah memastikan ketersediaan tanaman tetap berkelanjutan tanpa merusak ekosistem asli.
Namun di balik potensi besar tersebut, minat masyarakat lokal terhadap terrarium masih tergolong rendah. Justru, pasar terbesar berasal dari luar negeri, negara-negara yang tidak memiliki hutan tropis seperti Kalimantan. Bagi mereka, terrarium adalah cara menghadirkan sepotong alam yang tidak mereka miliki.
"Orang-orang luar tidak tinggal seperti daerah kita tempat punya hutan hujan yang luas. Jadi mereka ingin membawa apa yang mereka tidak bisa lihat berada di sekitar mereka," tambahnya.
Melalui workshop tersebut, penyelenggara berharap masyarakat Sampit mulai mengenal dan menghargai kekayaan alam di sekitarnya. Tidak hanya sebagai keindahan visual, tetapi juga sebagai peluang ekonomi yang bisa dikembangkan bersama.
"Harapan kami dengan kegiatan ini warga lokal lebih mengenal potensi ekspor tanaman sekitar. Kita juga membuka peluang partnership. Jadi harapannya kalau teman-teman sudah mengenal, siapa tahu nanti kita bisa bekerja sama atau partnership untuk supply dan lain-lain," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









