BORNEONEWS, Palangka Raya - Usia muda tak menghalangi I Putu Aditya Saputra menekuni usaha pertanian. Sejak 2019, pemuda berusia 24 tahun ini membangun bisnis sayuran organik dengan metode hidroponik, dengan fokus utama pada komoditas selada air.
Perjalanan usaha yang dirintisnya tidak berjalan mulus. Pada awal merintis, Putu sempat mengalami tiga kali gagal panen dalam satu tahun. Kondisi itu dipicu oleh kesalahan teknis serta keterbatasan waktu, karena ia harus bolak-balik mengantar ibunya berobat.
“Waktu itu sempat saya titipkan dengan teman, tapi ternyata tidak bisa juga kalau bukan saya sendiri yang pegang. Jadi banyak hal terlewat,” kata Aditya saat ditemui Borneonews di kebunnya di Jalan Kurnia, Kota Palangka Raya, Senin, 27 April 2026.
Tak hanya itu, tantangan lain datang dari persoalan lahan. Ia sempat tertipu akibat tumpang tindih kepemilikan tanah, sehingga terpaksa menyewa lahan selama tiga hingga empat tahun karena seluruh perlengkapan pertanian sudah terlanjur dibeli.
"Tidak bisa ditunda karena semua bahan dan perlengkapan pertanian sudah dibeli sementara tanahnya ketipu, akhirnya terpaksa harus menyewa dulu 4 tahun," tutur anak pertama dari dua bersaudara ini lagi.
Namun, kegigihan membuahkan hasil. Setelah melewati masa sulit, Aditya akhirnya berhasil membeli sebidang lahan berukuran 20x50 meter yang kini menjadi pusat usahanya.
Dalam operasionalnya, ia dibantu dua tenaga freelance yang bekerja saat masa panen atau pembersihan.
"Saya jalankan bisnis saja, kalau panen atau bersih-bersih baru dibantu," katanya.
Kini, dengan siklus panen sekitar 45–50 hari dan rata-rata panen satu meja per hari, usaha selada air miliknya mulai menunjukkan kestabilan. Ia pun berpesan kepada sesama petani agar tidak mudah menyerah, karena kunci bertahan ada pada konsistensi. (TESTI PRISCILLA/j)









