BORNEONEWS, Palangka Raya - Kisah I Putu Aditya Saputra, pemuda berusia 24 tahun, dalam merintis usaha hidroponik menjadi gambaran nyata bahwa tantangan dalam dunia pertanian tidak hanya datang dari alam, tetapi juga dari aspek non-teknis seperti lahan.
Saat memulai usaha pada 2019, Aditya menghadapi persoalan serius akibat tumpang tindih kepemilikan tanah. Kondisi tersebut membuatnya harus menyewa lahan selama tiga hingga empat tahun, meski investasi peralatan sudah dilakukan.
“Awalnya tidak mudah, sempat tertipu soal tanah,” ungkapnya kepada Borneonews pada Selasa, 28 April 2026.
Di tengah keterbatasan itu, ia tetap menjalankan usaha dengan menanam selada air secara hidroponik. Namun, perjalanan tersebut juga diwarnai kegagalan panen hingga tiga kali dalam tahun-tahun pertamanya.
Kesibukan pribadi, termasuk mengantar ibunya berobat, turut memengaruhi pengelolaan kebun yang membutuhkan perhatian intensif setiap hari.
Setelah melewati masa sulit, kondisi mulai berbalik. Aditya berhasil membeli lahan sendiri berukuran 20x50 meter yang kini menjadi tempat usaha tetapnya.
Dengan sistem panen bertahap dan dukungan tenaga freelance saat diperlukan, usahanya kini berjalan lebih stabil. Ia pun menekankan pentingnya ketekunan dalam bertani.
"Jangan pantang menyerah. Kuncinya konsisten, walaupun memang tidak mudah," tegasnya. (TESTI PRISCILLA/j)









