BORNEONEWS, Tamiang Layang – Mahasiswa asal Kabupaten Barito Timur, Joe Christian Yuka, bersama timnya di Universitas Brawijaya (UB) Malang mengembangkan MedAssist, aplikasi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membantu masyarakat memperoleh informasi dan panduan awal terkait kondisi kesehatan.
MedAssist kini memasuki tahap finishing sebelum ditargetkan dapat dipublikasikan melalui Google Play Store. Meski demikian, aplikasi tersebut belum tersedia secara luas karena tim masih melakukan penyempurnaan serta memastikan aspek keamanan dan kesiapan sistem.
Joe mengatakan MedAssist dikembangkan berangkat dari persoalan keterbatasan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan. Teknologi AI kemudian dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk memberikan informasi awal sebelum pengguna mendapatkan layanan dari tenaga kesehatan.
“MedAssist lahir bukan hanya dari ide teknologi, tetapi dari proses melihat langsung masalah di lapangan, lalu mencoba menjawabnya dengan pendekatan AI yang lebih bertanggung jawab dan terstruktur,” kata Joe, Rabu, 12 Agustus 2026.
Joe merupakan mahasiswa semester VII Program Studi Teknik Elektro Universitas Brawijaya. Pemuda kelahiran 18 Juli 2005 asal Kelurahan Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur, itu mulai tertarik dengan pemrograman ketika masih duduk di kelas II SMA Negeri 1 Tamiang Layang pada masa pandemi Covid-19.
Ia belajar pemrograman secara otodidak, mulai dari logika dan algoritma hingga pengembangan website. Ketertarikan tersebut kemudian berkembang ketika Joe mempelajari Python dan berbagai teknologi yang berkaitan dengan sistem komputer serta kecerdasan buatan.
Pengembangan MedAssist bermula ketika Joe bersama tim mengikuti kegiatan elevAlte pada 2025. Program tersebut merupakan kompetisi inovasi pemanfaatan AI melalui kolaborasi Microsoft dan Kementerian Komunikasi dan Digital.
Tim Joe yang tergabung dalam elevAlte Hub Universitas Brawijaya kemudian mengikuti sesi mentoring dengan topik Large Language Model untuk bidang kesehatan. Dari proses tersebut muncul gagasan untuk menggunakan AI sebagai alat bantu kesehatan yang tidak sekadar bekerja seperti chatbot.
MedAssist dikembangkan dengan memadukan Artificial Intelligence dan Clinical Decision Support System (CDSS). Sistem mengarahkan pengguna menjawab sejumlah pertanyaan berdasarkan gejala yang dialami sebelum menghasilkan kemungkinan kondisi yang relevan.
Dengan pendekatan tersebut, pengguna tidak hanya mengetik pertanyaan lalu menerima jawaban AI. Sistem menggunakan alur guided questions untuk mengumpulkan informasi yang kemudian dianalisis guna memberikan kemungkinan diagnosis awal serta informasi mengenai pertolongan atau penanganan awal.
“Nama MedAssist berasal dari Medical Assistant. Tujuannya sebagai teknologi pendamping yang membantu memberikan gambaran awal, bukan menggantikan tenaga kesehatan,” ujar Joe.
Fitur yang dikembangkan mencakup diagnosis awal berbasis AI dan CDSS, riwayat medis atau diagnosis, panduan pertolongan awal serta informasi tindak lanjut apabila kondisi pengguna tidak membaik.
Namun karena menyangkut kesehatan, pengembangan MedAssist juga menghadapi tantangan terkait keamanan dan akurasi informasi.
Joe menjelaskan tim tidak menggunakan Large Language Model secara langsung untuk menghasilkan seluruh respons. Sistem memanfaatkan CDSS dan rule base untuk mengatur alur pertanyaan. Tim juga menggunakan pendekatan Retrieval-Augmented Generation (RAG) agar AI dapat memanfaatkan sumber pengetahuan eksternal.
Pada pengembangan lanjutan melalui MedAssist-Expert, sistem dikembangkan lebih kompleks dengan pendekatan Routing Expert dan Safety Gate.
Tim juga melakukan system testing dan functional testing, termasuk menggunakan berbagai skenario gejala untuk melihat konsistensi respons sistem.
Dalam evaluasi model dan engineering validation, MedAssist mencatat akurasi diagnosis sebesar 0,95666 atau sekitar 95 persen. Joe menegaskan angka tersebut merupakan hasil evaluasi model dalam lingkungan pengujian dan belum dapat dianggap sebagai validasi klinis final.
MedAssist juga belum menjalani uji klinis formal atau validasi medis berskala rumah sakit. Karena itu, sistem masih membutuhkan tahapan validasi lebih lanjut sebelum dapat digunakan secara luas sebagai teknologi pendukung layanan kesehatan.
Pengembangan MedAssist kemudian berlanjut menjadi MedAssist-Expert pada 2026 melalui pendanaan penelitian percepatan profesor Universitas Brawijaya.
Pengembangan ini melibatkan kolaborasi dosen dan mahasiswa dari Teknik Elektro, Teknik Biomedik serta Fakultas Kedokteran. Joe sendiri berfokus pada aspek Machine Learning Operations (MLOps), termasuk menyiapkan pipeline, pemeliharaan model LLM, dokumentasi teknis, versioning model serta menjaga reproduktibilitas eksperimen.
Dalam penelitian tersebut, tim juga melibatkan Zainul Abidin sebagai ketua penelitian dan dr Syahrul Chilmi dalam aspek medis, termasuk validasi standar klinis dan pengujian CDSS.
Perjalanan MedAssist sebelumnya telah mencatat sejumlah capaian. Pada 2025, inovasi tersebut menjadi runner-up kompetisi elevAlte Hub Universitas Brawijaya. Tim juga memperoleh dana penelitian BRINation 2025 untuk mendukung pengembangan lebih lanjut.
Hasil pengembangan MedAssist kemudian dipresentasikan dalam Expo BRINation 2025. Tim juga membawa inovasi tersebut dalam sejumlah expo dan pameran teknologi untuk memperoleh masukan dari berbagai pihak.
Bagi Joe, pengembangan MedAssist bukan sekadar proyek mahasiswa. Teknologi tersebut diarahkan menjadi bagian dari penelitian dan pengembangan teknologi kesehatan yang dapat terus dikembangkan dalam beberapa tahun ke depan.
Joe berharap MedAssist nantinya dapat membantu masyarakat memperoleh informasi kesehatan awal dengan lebih mudah, terutama bagi mereka yang menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas kesehatan.
Meski demikian, ia menekankan teknologi tersebut tetap diposisikan sebagai alat bantu dan bukan pengganti tenaga kesehatan.
“Harapannya bukan sekadar membuat aplikasi AI yang dapat diunduh masyarakat, tetapi menghadirkan layanan medis awal yang mudah diakses sekaligus tetap menempatkan tenaga kesehatan pada posisi yang semestinya,” katanya.
Sebagai mahasiswa asal Barito Timur, Joe juga memiliki keinginan membawa pengalaman dan pengetahuan yang diperolehnya di Universitas Brawijaya kembali ke daerah asal.
Menurutnya, teknologi dapat dikembangkan untuk membantu berbagai persoalan di Barito Timur, mulai dari kesehatan, pendidikan, pertanian, lingkungan hingga pelayanan publik.
Joe juga mendorong pelajar di Barito Timur untuk tidak menjadikan asal daerah sebagai batas dalam mengembangkan kemampuan.
Ia menyarankan pelajar mulai dari hal sederhana seperti belajar teknologi, membuat proyek, mengikuti kompetisi, membangun komunitas dan tidak takut mengalami kegagalan.
Perjalanan Joe sendiri dimulai dari belajar pemrograman secara otodidak ketika SMA. Pada 2022, ia pernah mengikuti Olimpiade Sains Nasional bidang Informatika namun belum berhasil mencapai tingkat provinsi.
Pengalaman tersebut justru mendorongnya belajar lebih serius. Ia kemudian terus mengembangkan berbagai proyek teknologi hingga akhirnya terlibat dalam pengembangan MedAssist di Universitas Brawijaya.
Kini, Joe dan tim masih menyelesaikan tahap akhir MedAssist sebelum aplikasi tersebut dipublikasikan melalui Play Store. Setelah itu, pengembangan akan tetap diarahkan pada penyempurnaan sistem, evaluasi keamanan serta validasi yang diperlukan.
Bagi Joe, teknologi yang baik bukan sekadar teknologi yang terlihat canggih. Teknologi harus mampu menjawab persoalan nyata dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Dari Tamiang Layang hingga Universitas Brawijaya, perjalanan Joe menunjukkan bagaimana ketertarikan terhadap pemrograman yang bermula secara otodidak dapat berkembang menjadi sebuah proyek teknologi kesehatan yang kini diarahkan untuk menjangkau masyarakat lebih luas. (AGUSTINUS BOLE MALO/y)









