KALIMANTAN tidak kekurangan hutan. Yang sering kurang adalah cara kita memandang hutan.
Selama bertahun-tahun, hutan lebih sering dilihat dari dua sisi yang seolah bertentangan: sumber ekonomi atau kawasan yang harus dilindungi. Ketika bicara ekonomi, kita membayangkan kayu, perkebunan, pertambangan, atau hasil hutan. Ketika bicara konservasi, kita membayangkan larangan, pembatasan, dan manusia yang harus dijauhkan dari kawasan hutan.
Padahal, bagi masyarakat yang hidup di sekitar hutan, persoalannya jauh lebih sederhana sekaligus lebih rumit. Hutan adalah tempat mereka mencari air, pangan, penghasilan, dan ruang hidup.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan sekadar bagaimana mempertahankan hutan tetap hijau. Pertanyaan yang lebih penting adalah: bagaimana membuat masyarakat dapat hidup sejahtera tanpa kehilangan hutan yang menopang kehidupannya?
Sebuah gambaran menarik dapat dilihat di Hutan Kemasyarakatan Danau Masoraian, Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.
Kawasan sekitar 3.006 hektare tersebut dikelola KTH Komunitas Karya Masoraian dengan melibatkan 213 anggota. Di kawasan ini, hutan dan danau bukan sekadar bentang alam. Keduanya merupakan bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus rumah bagi keanekaragaman hayati.
Pemantauan KTH Komunitas Karya Masoraian pada 2024 mengestimasi keberadaan 21 individu orangutan dan mencatat 82 jenis burung. Pada saat yang sama, Danau Masoraian juga menjadi sumber penghidupan masyarakat. Berbagai jenis ikan, antara lain lais, toman, haruan, kerandang, betutu, dan baung, dimanfaatkan melalui kelompok perikanan. Sebagian hasilnya dijual dan sebagian dikonsumsi untuk kebutuhan keluarga.
Di sinilah kita melihat bahwa menjaga hutan sebenarnya bukan hanya persoalan menyelamatkan pohon.
Ada air yang harus dipertahankan. Ada ikan yang harus tetap tersedia. Ada satwa yang membutuhkan habitat. Ada keluarga yang membutuhkan penghasilan.
Semuanya saling berhubungan
Jika hutan rusak, persoalannya bukan hanya hilangnya tutupan pohon. Kerusakan dapat merembet pada sumber air, ekosistem perairan, sumber pangan, keanekaragaman hayati, dan pada akhirnya kehidupan masyarakat yang bergantung pada kawasan tersebut.
Karena itu, masyarakat sekitar hutan seharusnya tidak selalu ditempatkan sebagai pihak yang harus dijauhkan dari kawasan konservasi. Mereka justru dapat menjadi bagian penting dari sistem perlindungan hutan.
Tentu, keterlibatan masyarakat bukan berarti hutan bebas dimanfaatkan tanpa batas.
Justru sebaliknya. Ketika masyarakat diberi ruang untuk mengelola, ruang tersebut harus disertai tanggung jawab, aturan, kapasitas, dan pengawasan.
Di Masoraian, pengelolaan kawasan dilakukan melalui patroli dan penjagaan, pemeliharaan lingkungan, pencegahan kebakaran hutan dan lahan, restorasi area gambut yang terbuka, serta pemantauan keanekaragaman hayati. Dalam pencatatan pengelola, tidak tercatat kejadian kebakaran hutan dan lahan di kawasan tersebut sejak 2019.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan dalam setiap pembicaraan mengenai konservasi: masyarakat membutuhkan penghasilan.
Kita tidak dapat meminta masyarakat menjaga hutan sementara kebutuhan ekonomi mereka diabaikan.
Di sinilah pemberdayaan menjadi penting. Masyarakat membutuhkan keterampilan, kesempatan usaha, akses terhadap pasar, dan sumber pendapatan yang membuat mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus mengorbankan sumber daya alam yang menjadi penopang kehidupan mereka.
Pengelolaan kawasan bahkan dapat menciptakan manfaat ekonomi secara langsung. Di Masoraian, 10 tenaga pelaksana, termasuk dua perempuan, terlibat dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Total insentif yang diterima mencapai sekitar Rp30,8 juta per bulan atau Rp369,6 juta per tahun.
Angka tersebut bukan sekadar angka ekonomi
Ia menunjukkan bahwa menjaga kawasan juga dapat menjadi bagian dari pekerjaan masyarakat.
Selama ini, kita terlalu sering menghitung nilai alam berdasarkan berapa banyak yang dapat diambil darinya. Kayu bernilai ketika ditebang. Ikan bernilai ketika ditangkap. Lahan bernilai ketika dimanfaatkan.
Kita perlu mengembangkan cara berpikir yang berbeda: alam juga memiliki nilai ketika tetap hidup.
Hutan yang terjaga menyediakan air, mempertahankan habitat satwa, mendukung sumber pangan, dan memberikan jasa ekologis yang manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang. Danau yang sehat bukan hanya tempat menangkap ikan, tetapi juga ekosistem yang memungkinkan ikan tetap tersedia bagi generasi berikutnya.
Dengan cara pandang seperti itu, perdebatan ekonomi versus lingkungan menjadi kurang relevan.
Yang lebih penting adalah mencari bentuk ekonomi yang tidak menghancurkan fondasi ekologisnya sendiri.
Danau Masoraian telah menjadi salah satu lokus Integrated Area Development (IAD) Kabupaten Kotawaringin Barat. Pendekatan ini relevan karena pengelolaan kawasan tidak berhenti pada perlindungan lingkungan, tetapi juga menghubungkan pemberdayaan masyarakat dan pengembangan potensi wilayah.
Tentu, Masoraian bukan model yang dapat disalin begitu saja ke seluruh Kalimantan.
Setiap daerah memiliki karakter sosial, ekonomi, kelembagaan, dan ekologis yang berbeda. Tetapi ada prinsip yang dapat dipelajari.
Masyarakat harus diberi ruang untuk mengelola, kemampuan untuk menjaga, dan manfaat nyata dari sumber daya alam yang mereka lindungi.
Prinsip ini penting karena keberlanjutan tidak mungkin dibangun hanya melalui kebijakan dari atas.
Pemerintah memiliki peran dalam regulasi, pendampingan, penguatan kelembagaan, dan pengawasan. Masyarakat menjadi pengelola sekaligus penjaga. Dunia usaha dapat berkontribusi melalui dukungan terhadap peningkatan kapasitas masyarakat, perlindungan kawasan, pencegahan kebakaran, dan pengembangan ekonomi lokal.
Dengan demikian, keberlanjutan bukan tanggung jawab satu pihak.
Ia adalah kerja bersama
Kita juga perlu mengubah cara mengukur keberhasilan pengelolaan sumber daya alam. Keberhasilan tidak cukup diukur dari berapa hektare hutan yang masih hijau.
Kita perlu bertanya: berapa banyak masyarakat yang terlibat? Berapa banyak pekerjaan yang tercipta? Apakah pendapatan masyarakat meningkat? Apakah sumber pangan tetap tersedia? Apakah hutan dan danau tetap sehat? Apakah keanekaragaman hayati masih terjaga?
Dan pertanyaan yang paling penting: apakah anak-anak kita kelak masih dapat menikmati manfaat alam yang sama?
Jika jawabannya ya, maka kita tidak sekadar berhasil menjaga hutan. Kita berhasil menjaga kehidupan.
Kalimantan sebenarnya tidak kekurangan hutan. Yang masih kita perlukan adalah cara yang lebih baik untuk menjaganya.
Hutan bukan sesuatu yang harus selalu dijauhkan dari manusia. Hutan adalah bagian dari kehidupan manusia. Begitu pula sungai, danau, tanah, dan sumber daya alam lainnya.
Masa depan Kalimantan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak sumber daya alam yang mampu kita manfaatkan hari ini. Masa depan Kalimantan ditentukan oleh kemampuan kita memastikan sumber daya tersebut tetap hidup dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Sebab, keberlanjutan pada akhirnya bukan sekadar tentang menyelamatkan hutan dari manusia.
Keberlanjutan adalah tentang membuat manusia memiliki alasan untuk menyelamatkan hutannya.
Penulis: Henky Satrio Wibowo adalah mahasiswa Program Doktoral Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB









