BORNEONEWS, Tamiang Layang – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Dayu, Kecamatan Karusen Janang, Kabupaten Barito Timur, terkendala kondisi medan dan keterbatasan jarak pandang saat malam hari. Hingga operasi berakhir pada Rabu, 9 September 2026 malam, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Karhutla terjadi di lahan masyarakat yang berada di Jalan Desa Dayu RT 09, tepatnya di pinggir jalan menuju Desa Muara Pelantau. Berdasarkan hasil penanganan Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Barito Timur bersama tim gabungan, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 4 hektare, sedangkan area yang berhasil dipadamkan sekitar 0,8 hektare.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan informasi mengenai kebakaran diterima dari masyarakat melalui pesan WhatsApp. Laporan tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pengerahan personel dan peralatan menuju lokasi kejadian.
“Informasi kebakaran kami terima dari masyarakat melalui WhatsApp. Tim kemudian bergerak dari Posko Siaga Karhutla Tamiang Layang menuju lokasi di Desa Dayu RT 09,” ungkapnya.
Tim berangkat sekitar pukul 16.08 WIB dan menempuh perjalanan kurang lebih satu jam untuk mencapai lokasi. Proses pemadaman berlangsung hingga pukul 19.11 WIB dengan melibatkan personel lintas instansi serta masyarakat dan relawan.
Menurut Parluhutan, kondisi vegetasi di lokasi menjadi salah satu hambatan dalam operasi pemadaman. Semak belukar yang rimbun membuat petugas kesulitan menjangkau sejumlah titik api, sementara pemadaman yang berlangsung hingga malam menyebabkan jarak pandang semakin terbatas.
“Di lapangan, semak belukar cukup rimbun dan sulit untuk melihat titik-titik api. Pemadaman juga dilakukan sampai malam sehingga jarak pandang menjadi terbatas,” ujarnya.
Dalam penanganan tersebut, tujuh personel TRC-BPBD Barito Timur dikerahkan bersama anggota Damkar Pos Tampa, Bhabinkamtibmas Desa Dayu, personel Polres Barito Timur, TNI dari Kodim 1012/Buntok, personel Yonif TP 924/Uria Mapas, Satpol PP, Dinas Perhubungan, Perumdam Tirta Janang, unsur perangkat daerah gabungan Posko Terpadu Karhutla, masyarakat serta relawan.
Untuk mendukung pemadaman, TRC-BPBD membawa sejumlah peralatan, di antaranya mesin jinjing atau alkon, selang, nozzle, tandon air berkapasitas 1.000 liter, mobil operasional rescue serta lima unit knapsack sprayer. Damkar Pos Tampa turut mengerahkan satu unit mobil pemadam berkapasitas 3.000 liter beserta mesin pompa, nozzle dan selang.
Sementara itu, kebutuhan air untuk pemadaman juga didukung satu unit tangki suplai air dari Perumdam Tirta Janang. Dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam operasi, mengingat sumber air di sekitar lokasi tidak mudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pemadaman secara berkelanjutan.
Vegetasi berupa semak belukar dan pepohonan kayu menjadi bahan bakar dalam kebakaran tersebut. Kondisi lahan yang didominasi vegetasi rimbun membuat api berpotensi menjalar apabila masih terdapat bara atau titik api yang belum terpantau.
“Api belum sepenuhnya padam. Kendala di lapangan adalah semak belukar yang rimbun dan keterbatasan jarak pandang karena pemadaman dilakukan hingga malam hari,” kata Parluhutan.
Meski kegiatan pemadaman di lokasi telah berakhir pada malam ini, kondisi karhutla belum dapat dinyatakan sepenuhnya aman. Tim harus memastikan tidak ada titik api yang kembali membesar dan meluas ke area lainnya.
Sebelum meninggalkan lokasi, masing-masing unsur yang terlibat terlebih dahulu melakukan pengecekan personel. Setelah seluruh anggota dipastikan lengkap, tim gabungan kemudian kembali ke instansi masing-masing.
Cepatnya laporan masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam respons terhadap kejadian tersebut. Informasi yang diterima melalui WhatsApp memungkinkan petugas segera bergerak menuju lokasi dan melakukan penanganan sebelum kebakaran berpotensi meluas ke area yang lebih besar. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









