BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Relawan Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Wilayah 03 Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, membantu kelancaran komunikasi radio bagi petugas dan relawan yang menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla)
Wakil Sekretaris RAPI Wilayah 03 Kobar, Masri, saat ditemui di Posko Induk di Kantor BPBD Kobar Rabu, 21 Oktober 2026 menjelaskan saat ini terdapat empat stasiun komunikasi yang disiapkan untuk mendukung koordinasi petugas dan relawan di lapangan.
“Untuk stasiun, ada posko induk di kantor BPBD Kobar, kemudian di KM 11 Jalan Lintas Kotawaringin Lama, di KM 20, serta stasiun relay di dekat Brimob, dekat Bundaran Bahari, Kecamatan Kumai,” jelas Masri.
Menurut Masri, eberadaan stasiun tersebut membantu komunikasi antara petugas yang tergabung dalam satuan tugas (Satgas) penanganan karhutla dan para relawan yang melakukan pemadaman di sejumlah lokasi.
Masri menjelaskan, jaringan komunikasi radio menjadi salah satu sarana pendukung koordinasi, terutama bagi petugas dan relawan yang bekerja di lapangan dalam kondisi kebakaran yang masih memerlukan penanganan.
RAPI Kobar juga berencana membuka satu stasiun komunikasi tambahan di Posko Desa Sekonyer. Stasiun ini disiapkan untuk membantu komunikasi petugas dan relawan yang melakukan pemadaman karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP).
“Rencananya akan dibuka kembali satu stasiun di Posko Desa Sekonyer untuk membantu komunikasi petugas dan relawan lapangan yang sedang melakukan pemadaman karhutla di kawasan TNTP,” jelas Masri.
Walaupun telah menyiapkan jaringan komunikasi di sejumlah titik, Masri mengatakan masih terdapat kendala terkait ketersediaan peralatan pendukung. Sejumlah kebutuhan teknis hingga kini belum dapat dipenuhi melalui pengadaan.
Peralatan yang dibutuhkan antara lain radio rig, antena pemancar, perangkat switching, serta kabel-kabel untuk menunjang operasional stasiun komunikasi.
“Peralatan seperti radio rig, antena pemancar, serta kabel-kabel sampai saat ini belum pernah diadakan. Selama ini peralatan tersebut merupakan swadaya dari teman-teman anggota RAPI,” jelas Masri.
Selain pengadaan peralatan, perawatan perangkat komunikasi juga menjadi persoalan. Menurut Masri, kebutuhan biaya pemeliharaan hingga kini belum mendapatkan dukungan anggaran.
"Padahal, peralatan komunikasi yang digunakan untuk mendukung penanganan karhutla memerlukan perawatan agar tetap berfungsi selama operasional di lapangan," jelas Masri.
Karena itu, Masri berharap kebutuhan peralatan dan biaya perawatan dapat menjadi perhatian sehingga dukungan komunikasi radio bagi petugas dan relawan penanganan karhutla di Kobar dapat berjalan lebih optimal. (WAHYU KRIDA/H)









