BORNEONEWS, Sampit - Prakirawan BMKG Stamet H Asan Kotim, Rahmat Wahidin Abdi, menjelaskan kabut asap terjadi di Sampit saat siang hari disebabkan aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
"Penyebabnya yang utama pasti karena adanya karhutla, didukung dengan kondisi awan yang cukup tebal dan kecepatan angin yang rendah sehingga asap tidak bisa tersebar ataupun naik ke lapisan atas," kata Rahmat, Jumat, 18 September 2026.
Berdasarkan pengamatan BMKG dari Kantor BMKG Kotim, jarak pandang aktual pada pukul 12.00 WIB hanya mencapai 100 meter.
Rahmat juga memastikan kabut asap yang menyelimuti Sampit tidak dipengaruhi oleh hujan intensitas ringan yang terjadi sehari sebelumnya.
"Tidak ada pengaruh hujan kemarin dengan kabut asap sekarang," tegasnya.
Adapun, berdasarkan data BMKG dalam 24 jam terakhir hingga 18 September 2026 pukul 07.00 WIB, tercatat 479 titik panas yang tersebar di seluruh kecamatan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 6 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 461 titik tingkat kepercayaan menengah dan 12 titik tingkat kepercayaan tinggi.
Kecamatan Pulau Hanaut menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni mencapai 195 titik.
Sementara itu, BMKG memprakirakan tidak ada potensi hujan di Kotim pada Jumat. Kondisi cuaca diperkirakan cerah hingga berawan.
"Untuk hari ini tidak ada potensi hujan, hanya cerah hingga berawan," pungkas Rahmat. (DEWI PATMALASARI/H)









