PANGKALAN BUN –

GERAKAN Literasi Sekolah (GLS) merupakan salah satu upaya sekolah untuk membiasakan siswa membaca dan menulis. Kegiatan ini tidak hanya bertujuan agar siswa pandai membaca, tetapi juga membantu membentuk karakter, menumbuhkan kebiasaan belajar, dan membangun budaya belajar sepanjang hayat.

Gerakan literasi dilakukan melalui berbagai kegiatan yang menarik dan sesuai dengan usia serta perkembangan siswa. Bacaan yang digunakan juga sebaiknya memiliki nilai-nilai positif, seperti budi pekerti, budaya dan kearifan lokal, nilai kebangsaan, serta pengetahuan tentang dunia.

Gerakan literasi bukan hanya menjadi tugas guru atau perpustakaan. Semua warga sekolah perlu terlibat, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua atau wali murid, hingga masyarakat. Dengan kerja sama tersebut, sekolah dapat menjadi lingkungan yang mendukung tumbuhnya kebiasaan membaca dan belajar.

Tujuan utama Gerakan Literasi Sekolah adalah membangun kebiasaan membaca dan menciptakan lingkungan sekolah yang kaya akan kegiatan literasi. Dengan demikian, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang gemar belajar, mampu berpikir kritis, dan terus belajar sepanjang hidupnya.

1. Menumbuhkan Budaya Literasi di Sekolah

Salah satu tujuan GLS adalah membuat membaca menjadi kebiasaan yang menyenangkan bagi siswa. Sekolah perlu menyediakan berbagai jenis bacaan, baik buku cetak maupun bahan bacaan digital, yang sesuai dengan minat dan usia mereka.

Membuat anak langsung gemar membaca tentu tidak mudah. Karena itu, sekolah perlu mengenali terlebih dahulu bacaan yang disukai siswa. Misalnya, melalui pengamatan, percakapan, atau kegiatan sederhana untuk mengetahui jenis buku yang paling menarik bagi mereka.

Ketika sekolah sudah mengetahui minat bacaan siswa, perpustakaan dan guru dapat membuat kegiatan literasi yang lebih sesuai. Dengan cara ini, membaca tidak terasa sebagai kewajiban, tetapi menjadi kegiatan yang menyenangkan.

2. Meningkatkan Kemampuan Literasi Warga Sekolah

Budaya literasi perlu dibangun sejak dini. Kemampuan membaca bukan hanya berkaitan dengan kemampuan mengenal huruf dan memahami tulisan, tetapi juga kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu cara yang dapat dilakukan sekolah adalah menyediakan waktu khusus untuk membaca, misalnya sekitar 15 menit sebelum pembelajaran dimulai. Namun, kegiatan membaca sebaiknya tidak berhenti pada rutinitas semata.

Guru dan pengelola perpustakaan dapat membuat kegiatan yang lebih menarik. Misalnya, membaca bersama, bercerita kembali isi buku, membuat resensi sederhana, berdiskusi, membaca nyaring, membuat karya dari hasil membaca, atau memanfaatkan bahan bacaan digital. Dengan kegiatan yang beragam, siswa akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenal berbagai jenis bacaan dan menemukan bahwa membaca dapat memberikan pengetahuan sekaligus kesenangan.

3. Menciptakan Sekolah sebagai Tempat Belajar yang Menyenangkan dan Ramah Anak

Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat untuk mengikuti pelajaran, tetapi juga menjadi tempat yang menyenangkan bagi siswa untuk belajar dan menemukan berbagai pengetahuan. Untuk mewujudkannya, diperlukan dukungan dari seluruh pihak, seperti kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, komite sekolah, orang tua, dan masyarakat.

Sekolah perlu menyediakan buku-buku yang menarik, bermutu, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Jenis bacaannya juga perlu beragam agar siswa memiliki kesempatan untuk memilih sesuai dengan minat mereka. Selain koleksi buku, lingkungan sekolah juga dapat dibuat lebih mendukung kegiatan literasi. Misalnya, menyediakan sudut baca di kelas, taman baca, papan informasi, pojok literasi, atau ruang baca yang nyaman.

Lingkungan seperti ini dapat membuat siswa lebih mudah menemukan informasi, membaca, berdiskusi, dan mengembangkan gagasan. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi lingkungan yang mendorong siswa untuk berpikir kritis dan terus belajar.

4. Menjaga Keberlanjutan Kegiatan Literasi

Gerakan literasi tidak seharusnya hanya dilakukan sesekali. Agar memberikan manfaat yang nyata, kegiatan literasi perlu dilakukan secara terus-menerus dan menjadi bagian dari kehidupan sekolah.

Perpustakaan dan sekolah dapat membuat berbagai program yang menarik dan dilakukan secara rutin. Sekolah juga dapat bekerja sama dengan berbagai pihak, seperti penerbit, perpustakaan daerah, komunitas literasi, taman bacaan masyarakat, atau lembaga lainnya untuk mendapatkan bahan bacaan yang beragam dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Yang tidak kalah penting, kegiatan literasi perlu terus dievaluasi. Sekolah dapat melihat kegiatan mana yang disukai siswa, apa yang masih menjadi kendala, dan program apa yang perlu dikembangkan.

Dengan cara tersebut, gerakan literasi dapat terus berkembang dan tidak berhenti hanya sebagai program sekolah.

5. Literasi adalah Kebiasaan Bersama

Gerakan Literasi Sekolah pada dasarnya bukan sekadar kegiatan membaca buku. Literasi adalah upaya membangun kebiasaan untuk mencari, memahami, menggunakan, dan membagikan pengetahuan.

Karena itu, keberhasilan gerakan literasi tidak hanya ditentukan oleh banyaknya buku yang dimiliki sekolah. Yang lebih penting adalah bagaimana buku dan berbagai sumber informasi tersebut benar-benar digunakan dan memberikan manfaat bagi siswa. Sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya dalam membangun kebiasaan tersebut. Ketika anak melihat orang-orang di sekitarnya gemar membaca, berdiskusi, mencari informasi, dan belajar, mereka akan lebih mudah meniru kebiasaan positif tersebut.

Pada akhirnya, Gerakan Literasi Sekolah diharapkan dapat melahirkan generasi yang gemar membaca, memiliki pengetahuan luas, mampu berpikir kritis, kreatif, dan terbiasa belajar sepanjang hayat. Dari kebiasaan sederhana membaca, dapat tumbuh generasi yang lebih siap menghadapi perubahan dan ikut membangun masa depan bangsa.

PenulisL Nopiar R atau Kak Nono, adalah Pustakawan, PW. Forum TBM Kalteng, PD. Ikatan Pustakawan Indonesia, Pegiat literasi, Relawan Literasi Masyarakat Perpusnas RI 2025/2026