PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Kerusakan hutan dinilai memiliki dampak yang jauh lebih luas dibanding sekadar berkurangnya tutupan pohon.

Direktur Sustainability Sawit Sumbermas Sarana (SSMS), Henky Satrio Wibowo, mengatakan kerusakan hutan dapat merembet pada sumber air, ekosistem perairan, sumber pangan hingga kehidupan masyarakat.

“Jika hutan rusak, persoalannya bukan hanya hilangnya tutupan pohon,” kata Henky kepada Borneonews pada Senin, 28 September 2026.

Menurutnya, masyarakat yang hidup di sekitar hutan memiliki ketergantungan terhadap kawasan tersebut.

Hutan menjadi tempat mencari air, pangan, penghasilan dan ruang hidup.

Gambaran tersebut, kata Henky, dapat dilihat di Hutan Kemasyarakatan Danau Masoraian, Kotawaringin Lama, Kotawaringin Barat.

Kawasan seluas sekitar 3.006 hektare tersebut dikelola masyarakat melalui KTH Komunitas Karya Masoraian dengan melibatkan 213 anggota.

Di kawasan tersebut terdapat hutan yang menjadi habitat satwa dan danau yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber penghidupan.

Karena itu, Henky menilai perlindungan kawasan harus melihat hubungan antarelemen ekosistem.

“Ada air yang harus dipertahankan. Ada ikan yang harus tetap tersedia. Ada satwa yang membutuhkan habitat. Ada keluarga yang membutuhkan penghasilan,” ujarnya. (TESTI PRISCILLA/H)