RENCANA penerapan ASEAN Customs Transit System (ACTS) di Koridor Kalimantan mulai 2027 akan membuat perdagangan Indonesia dan Malaysia semakin terhubung.
Sistem ini memungkinkan barang bergerak melintasi negara ASEAN dengan prosedur transit pabean yang lebih sederhana dan terkoordinasi.
Jalur Jagoi Babang-Serikin di Kalimantan Barat akan menjadi salah satu jalur penting dalam perdagangan lintas batas yang semakin terintegrasi.
Wakil Menteri Perdagangan Indonesia, Dyah Roro Esti Widya Putri, menekankan kesiapan infrastruktur, aspek hukum, dan prosedur untuk mendukung pelaksanaan Koridor Kalimantan ACTS. Ketiganya perlu tersedia agar sistem tersebut dapat berjalan efektif ketika mulai diterapkan.
Setelah jalurnya siap, perhatian perlu bergeser pada aktivitas ekonomi yang tumbuh dan nilai yang tercipta di sepanjang jalur tersebut.
Ketika perjalanan barang menjadi lebih mudah, kebutuhan terhadap pengumpulan, penyimpanan, pengemasan, pembiayaan, pengangkutan, hingga distribusi ikut meningkat. Ruang ekonomi baru muncul di antara sentra produksi dan pasar.
Perdagangan lintas batas Kalimantan Barat sudah memperlihatkan arah tersebut. Nilai ekspor melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Jagoi Babang meningkat dari Rp58,73 miliar pada 2023 menjadi Rp75,39 miliar pada 2024 dan Rp101,74 miliar pada 2025.
Hingga Agustus 2026, nilainya mencapai sekitar Rp109,40 miliar. Komoditas yang diperdagangkan didominasi hasil bumi dan ikan.
Mengisi ruang nilai
Potensi itu terlihat pada perdagangan perikanan. Ekspor komoditas perikanan melalui PLBN Jagoi Babang mencapai 676,96 ton dengan nilai Rp16,09 miliar hingga Agustus 2026.
Komoditas yang diperdagangkan meliputi udang, kepiting, kerang, bawal, kakap, cumi-cumi, tenggiri, kerapu, rajungan, sotong, ikan asin, dan berbagai hasil perikanan lainnya. Perdagangan ini melibatkan perusahaan dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Produk tersebut sudah memiliki pasar. Nilai ekonomi yang diterima daerah dapat berbeda ketika komoditas dijual sebagai bahan mentah dibandingkan setelah melalui penyimpanan berpendingin, pemilahan, pengolahan, pengemasan, dan sertifikasi.
Hal serupa berlaku pada hasil pertanian yang dapat memperoleh nilai lebih tinggi setelah melalui sortasi, pengemasan, penyimpanan, dan distribusi.
Kondisi di Bengkayang memperlihatkan ruang tersebut masih terbuka. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Bengkayang Yakobus mengatakan produk UMKM asal daerah itu yang telah masuk ke pasar Malaysia masih terbatas, di antaranya tikar bidai dan keripik singkong Anen.
Padahal, sayuran, buah-buahan, ikan, daging, serta sejumlah produk lain memiliki peluang untuk dipasarkan ke Malaysia. Yakobus menuturkan pelaku usaha masih membutuhkan penguatan pengolahan, pengemasan, kesinambungan produksi, dan pemenuhan sertifikasi, termasuk sertifikasi halal.
Kondisi itu memperlihatkan bahwa akses pasar belum otomatis membuat produk lokal siap memasok pasar secara konsisten. Kapasitas produksi dan standar produk ikut menentukan apakah peluang perdagangan dapat benar-benar dimanfaatkan.
Jarak antara kesiapan koridor dan kapasitas usaha lokal menjadi persoalan yang lebih mendasar. Jalan dan fasilitas perbatasan dapat mempercepat arus barang, sementara pengolahan, penyimpanan, sertifikasi, pembiayaan, dan distribusi masih dilakukan di tempat lain.
Akibatnya, nilai perdagangan dapat bertambah tanpa membuat bagian yang diterima ekonomi lokal meningkat dalam proporsi yang sama. Barang lebih cepat keluar dari daerah, sedangkan kegiatan dengan nilai tambah lebih tinggi tetap dapat dikerjakan oleh pelaku usaha yang memiliki fasilitas dan jaringan di luar Kalimantan.
Ruang tersebut tidak selalu membutuhkan industri besar. Petani dapat mengambil peran pada pemilahan dan pengemasan. Pelaku perikanan dapat mengembangkan layanan rantai dingin. UMKM dapat meningkatkan kapasitas produksi dan memenuhi standar pasar lintas negara. Pengusaha lokal juga dapat masuk ke pergudangan, angkutan, pembiayaan perdagangan, dan distribusi.
Semakin banyak tahapan perdagangan berlangsung di daerah asal barang, semakin besar bagian dari nilai transaksi yang dapat berputar di ekonomi setempat.
Mengikuti perubahan
Modernisasi perbatasan akan membawa perubahan lain. Pembangunan kompleks Customs, Immigration, Quarantine and Security (CIQS) di Serikin, Sarawak, Malaysia, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bengkayang, ditargetkan rampung pada 2027 dan diharapkan mulai beroperasi pada 2028.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bengkayang bersama pemerintah pusat mengkaji perubahan pola perdagangan di kawasan Serikin agar aktivitas perdagangan tradisional tetap berjalan ketika sistem perbatasan semakin tertata. Perubahan tersebut akan meningkatkan tuntutan terhadap dokumen, standar produk, kesinambungan pasokan, dan fasilitas pendukung.
Pedagang yang selama ini mengandalkan pola perdagangan tradisional perlu menyesuaikan diri ketika lalu lintas barang semakin formal dan prosedurnya semakin teratur. Kemampuan memasok secara konsisten akan semakin penting ketika akses perdagangan terbuka lebih luas.
Urutan pembangunan fasilitas juga perlu diperhatikan. Di sisi Malaysia, CIQS Serikin ditargetkan selesai secara fisik pada 2027 dan beroperasi pada 2028. Di sisi Indonesia, Terminal Barang Internasional Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang telah masuk rencana strategis Kementerian Perhubungan dan dijadwalkan mulai dibangun pada 2029.
Jarak waktu itu memberi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk menyiapkan kapasitas. Ketika volume perdagangan meningkat sebelum seluruh fasilitas logistik tersedia, kebutuhan terhadap penyimpanan, pengelompokan muatan, pemeriksaan, pengangkutan, dan distribusi akan ikut bertambah.
Jika layanan tersebut belum tersedia di daerah, pelaku usaha dari luar kawasan akan lebih mudah mengisinya.
Kalimantan Barat sudah memiliki dasar untuk mengembangkan kegiatan tersebut. Ekspor melalui Jagoi Babang terus meningkat, komoditas lokal telah memiliki pasar di Malaysia, dan Bea Cukai memberikan fasilitasi kepada pelaku usaha, termasuk UMKM.
Pertumbuhan arus barang perlu diikuti oleh pertumbuhan kegiatan usaha di daerah. Pada pertanian, pengumpulan, sortasi, pengemasan, dan penyimpanan dapat diperkuat. Pada perikanan, rantai dingin dan pengolahan dapat dikembangkan. Pada UMKM, kapasitas produksi, sertifikasi, dan pembiayaan akan menentukan kemampuan memasok pasar secara berkelanjutan.
Dampak ekonomi Koridor Kalimantan ACTS akan banyak ditentukan oleh seberapa banyak kegiatan tersebut tumbuh di sepanjang jalurnya. Kelancaran perlintasan dapat memperbesar perdagangan, sementara manfaat ekonomi lokal bergantung pada kemampuan pelaku usaha mengisi lebih banyak tahapan sebelum barang sampai ke pasar.
Konektivitas dengan Malaysia dan pasar ASEAN memberi Kalimantan Barat akses yang lebih luas. Akses itu perlu diikuti kapasitas usaha yang cukup agar semakin banyak nilai perdagangan tercipta dan bertahan di daerah.
Oleh: Martha Herlinawati Simanjuntak/LKBN ANTARA









