MUARA TEWEH –

BORNEONEWS, Muara Teweh – Bahasa daerah dinilai perlu lebih dekat dengan kehidupan generasi muda agar tidak perlahan kehilangan penutur.

Anggota DPRD Barito Utara, Jamilah, mendorong agar pelestarian bahasa dan sastra daerah tidak hanya berhenti pada kerja sama antarlembaga, tetapi diwujudkan melalui kegiatan yang menyentuh sekolah, keluarga dan masyarakat.

Menurutnya, perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi menjadi tantangan tersendiri bagi keberlangsungan bahasa daerah.

“Generasi muda harus diberikan ruang untuk mengenal dan menggunakan bahasa daerah melalui kegiatan yang menarik. Sekolah, keluarga dan lingkungan masyarakat memiliki peran yang sama pentingnya,” kata Jamilah, Senin, 5 Oktober 2026.

Ia menilai bahasa daerah bukan sekadar alat komunikasi.

Di dalamnya terdapat identitas, sejarah, cerita rakyat, ungkapan tradisional hingga jejak kebudayaan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, ia mendukung langkah Pemerintah Kabupaten Barito Utara yang memperkuat kerja sama dengan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kerja sama tersebut sebelumnya ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepakatan di Jakarta pada 29 September 2026.

Namun Jamilah menegaskan, nilai dari kerja sama itu baru akan terasa jika diterjemahkan menjadi program nyata.

“Kami di DPRD tentu mendukung upaya pemerintah daerah dalam memperkuat pelestarian bahasa dan sastra daerah. Ini merupakan bagian dari identitas budaya yang harus kita jaga dan diwariskan kepada generasi muda,” ujarnya.

Ia mendorong tindak lanjut berupa dokumentasi bahasa daerah, penyusunan bahan ajar, pengenalan sastra daerah di sekolah serta kegiatan budaya yang melibatkan anak-anak dan generasi muda.

Menurutnya, pendekatan pelestarian juga perlu dibuat lebih kreatif agar bahasa daerah tidak terasa jauh dari kehidupan generasi sekarang.

Cerita rakyat, sastra lisan, pantun, peribahasa hingga ungkapan tradisional dinilai dapat dikemas dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah diterima.

“Yang terpenting adalah bagaimana nota kesepakatan ini benar-benar menghasilkan kegiatan yang berkelanjutan. Jangan sampai hanya berhenti pada seremoni, tetapi harus ada program yang manfaatnya bisa dirasakan masyarakat dan dunia pendidikan,” pungkasnya.

Dengan langkah itu, pelestarian bahasa daerah tidak hanya menjadi agenda pemerintah, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Barito Utara. (RAMADHANI/J)