SAMPIT –

‎BORNEONEWS, Sampit – Kasus diare di Kabupaten Kotawaringin Timur mengalami peningkatan selama beberapa pekan terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah musim kemarau dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut.
‎
‎"Berdasarkan data mingguan, kasus diare menunjukkan tren peningkatan berturut-turut," kata Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kotim Umar Kaderi, Selasa, 13 Oktober 2026.

‎Pada minggu ke-38 tercatat sebanyak 254 kasus, kemudian naik menjadi 261 kasus pada minggu ke-39. Jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 315 kasus pada minggu ke-40. ‎“Kasus diare naik dari minggu ke minggu,” ujarnya.
‎
‎Peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian di tengah kondisi musim kemarau dan terjadinya karhutla.

Pada musim kemarau, berkurangnya ketersediaan air bersih dan risiko pencemaran air dapat meningkatkan potensi penularan penyakit diare, terutama apabila kebersihan makanan dan lingkungan tidak terjaga.
‎
‎"Ini juga berkaitan dengan kondisi saat ini yang sebagian air mulai asin di sejumlah wilayah Kotim. Air itu sudah tidak layak konsumsi hanya bisa digunakan untuk mencuci saja," imbuhnya.
‎
‎Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan, mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah buang air, serta memastikan air yang dikonsumsi bersih dan aman. Makanan juga perlu diolah dan disimpan dengan baik agar terhindar dari kontaminasi.
‎
‎Jika mengalami diare, masyarakat perlu menjaga kecukupan cairan dengan mengonsumsi oralit untuk mencegah dehidrasi.

Apabila diare disertai tanda dehidrasi, lemas berat, atau kondisi semakin memburuk, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
‎
‎Peningkatan kasus dalam tiga pekan berturut-turut ini menjadi pengingat pentingnya menjaga sanitasi dan memastikan ketersediaan air bersih selama musim kemarau. (DEVI/R)