BORNEONEWS, Kasongan — Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Katingan berdampak signifikan terhadap pasokan dan harga pangan lokal.
Penurunan debit air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Katingan memaksa mayoritas bahkan hampir seluruh petani keramba di wilayah Kasongan untuk memanen lebih awal dan menghentikan sementara aktivitas budidaya ikan mereka.
Kondisi surutnya air sungai ini memicu kelangkaan pasokan ikan lokal, khususnya jenis nila dan emas. Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, pedagang di Pasar Kasongan kini terpaksa mengandalkan pasokan ikan dari luar daerah, seperti Kota Palangka Raya.
Meskipun pasokan telah didatangkan dari luar kota, stok di pasaran kerap kali kosong.Kelangkaan tersebut mendorong lonjakan harga yang cukup drastis.
Berdasarkan pantauan di lapangan, harga ikan nila dan emas yang semula berkisar antara Rp35.000 hingga Rp40.000 per kilogram, kini melambung tinggi hingga menyentuh angka Rp65.000 per kilogram.Hingga pertengahan Oktober 2026, belum ada tanda-tanda hujan akan turun di wilayah Kabupaten Katingan.
Dampak kemarau makin diperparah dengan munculnya kabut asap pekat yang menyelimuti daerah tersebut setiap hari, yang mulai memicu peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah masyarakat. (ABDUL GOFUR/H)









