PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam atau MGMP PAI SMP Kota Palangka Raya menekankan pentingnya kolaborasi dan profesionalisme guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, termasuk menyesuaikan metode mengajar dengan kondisi peserta didik di tengah dampak kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Hal tersebut mengemuka dalam kegiatan MGMP PAI SMP Kota Palangka Raya yang digelar di SMPIT Tiara Az-Zahra pada Rabu, 14 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti para guru PAI dari berbagai sekolah dengan menghadirkan perwakilan Kementerian Agama, Dinas Pendidikan, serta pengawas PAI SMP.

Kepala SMPIT Tiara Az-Zahra, Jesiati, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya sebagai tuan rumah kegiatan tersebut. Menurutnya, MGMP menjadi ruang bagi para guru untuk mempererat silaturahmi, berbagi pengalaman, sekaligus mencari solusi atas berbagai tantangan pembelajaran.

“Melalui kegiatan MGMP ini, kita berharap para guru dapat saling berbagi pengalaman, bertukar gagasan, dan memperkuat kolaborasi untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih baik bagi peserta didik. Kemajuan pendidikan membutuhkan sinergi dan komitmen bersama dari semua pihak,” ujarnya.

Sementara itu, perwakilan Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Sri Wulandari, menyoroti pentingnya empati guru terhadap kondisi peserta didik, terutama selama masa karhutla yang berdampak pada kesehatan dan kenyamanan belajar akibat kabut asap.

Ia mengingatkan, guru tidak semestinya hanya berorientasi pada penyelesaian materi pembelajaran, tetapi juga perlu memahami kondisi yang dihadapi siswa. Penyesuaian pendekatan pembelajaran menjadi penting agar peserta didik tetap memperoleh haknya untuk belajar dengan baik.

“Dalam kondisi karhutla, kita perlu memiliki empati terhadap peserta didik yang mengalami kendala dalam belajar. Jangan hanya berfokus pada materi yang harus diselesaikan, tetapi pahami juga kondisi anak-anak agar mereka tetap mendapatkan kesempatan belajar dengan baik,” katanya.

Menurut Sri, tantangan pendidikan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak serta profesionalisme guru dalam menentukan pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Dengan demikian, proses pembelajaran tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi kesehatan dan kenyamanan siswa.

Ketua MGMP PAI SMP Kota Palangka Raya, Suyatno, mengatakan kegiatan MGMP dilaksanakan secara bergiliran di berbagai sekolah untuk menjaga komunikasi dan memperkuat kerja sama antarguru.

“Untuk mengoptimalkan pembelajaran dan menjaga kolaborasi setiap sekolah, kami berkeliling melaksanakan kegiatan MGMP. Apa pun kondisinya, agenda ini harus tetap berjalan,” tegasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Pengawas PAI SMP, Nur Asiah, turut mengingatkan pentingnya kesiapan perangkat pembelajaran sebagai pedoman guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar mengajar.

Ia menekankan bahwa perangkat pembelajaran tidak boleh sekadar dipandang sebagai pemenuhan administrasi. Penyusunannya harus dilakukan secara cermat dan disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik agar pembelajaran berlangsung terarah dan efektif.

Di sisi lain, perwakilan Kasi Pendidikan Agama Islam (PAIS) Kementerian Agama Kota Palangka Raya, Zainal Ilmi, mengapresiasi pelaksanaan MGMP sebagai wadah bagi guru untuk terus belajar dan merumuskan solusi atas persoalan pembelajaran di sekolah.

Ia juga mengingatkan bahwa tanggung jawab guru PAI tidak terbatas pada penyampaian materi keagamaan, tetapi mencakup pembentukan akhlak dan karakter peserta didik. Karena itu, kegiatan MGMP diharapkan menghasilkan langkah nyata yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran.

Melalui kegiatan tersebut, para guru diharapkan semakin meningkatkan kompetensi, menyempurnakan perangkat pembelajaran, serta memperkuat kolaborasi antarsekolah. Sinergi antara satuan pendidikan, Dinas Pendidikan, Kementerian Agama, dan pengawas juga dinilai penting untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan tetap berpihak pada kebutuhan peserta didik. (TESTI PRISCILLA/H)