BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Pemerintah menyiapkan pembukaan jalur darat sepanjang sekitar 1,5 kilometer untuk mempercepat penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan langkah tersebut dipilih karena akses menuju titik kebakaran melalui jalur sungai sangat bergantung pada kondisi pasang surut.
“Daripada kita mengandalkan jalur sungai yang pasang surut itu, tadi Pak Pangdam sudah ambil keputusan. Insyaallah kita justru akan tembus jalur darat. Sudah dihitung sekitar 1,5 kilometer,” kata Raja Juli Antoni, Kamis, 15 Oktober 2026.
Keputusan itu diambil setelah Menhut bersama Pangdam XXII/Tambun Bungai Mayjen TNI Zainul Arifin mengecek langsung sejumlah titik penanganan karhutla di Tanjung Puting.
Pesalat menjadi salah satu lokasi prioritas karena titik api di kawasan tersebut dinilai paling dekat dengan zona inti taman nasional.
Sebelum peninjauan lapangan, sejumlah titik kebakaran telah dipetakan menggunakan drone thermal.
Untuk mencapai salah satu kepala api, rombongan menyusuri Sungai Sekonyer menggunakan kelotok. Namun akses sungai dinilai menjadi kendala ketika permukaan air surut.
Karena itu, jalur darat sekitar 1,5 kilometer akan dirintis untuk mendekatkan personel dan peralatan menuju lokasi kebakaran.
Pengerjaan akses tersebut akan melibatkan masyarakat, TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan.
Selain akses darat, pemerintah juga menyiapkan sekitar 30 hingga 40 sumur bor di sepanjang jalur menuju titik api.
Sumur tersebut direncanakan dibuat dengan jarak sekitar 50 hingga 100 meter dan airnya ditampung dalam tandon untuk mendukung operasi pemadaman.
“Kalau dibangun sekitar ada yang 50 meter, ada yang per 100 meter, mungkin kita butuh sekitar 30 sampai 40 sumur bor,” ujar Raja Juli.
Selain Pesalat, penanganan karhutla juga difokuskan di beberapa lokasi lain, di antaranya Teluk Pulai, Sungai Baung, Tanjung Rengas, dan Sungai Perlu.
Strategi penanganan akan disesuaikan dengan kondisi masing-masing titik, mulai dari penguatan pasukan darat, pembangunan sumur bor, pembuatan sekat bakar bila diperlukan, hingga water bombing.
Pemerintah juga tetap mengandalkan operasi udara melalui water bombing dan operasi modifikasi cuaca untuk membantu mengendalikan kebakaran dan mencegah api meluas ke zona inti taman nasional.









