BORNEONEWS, Palangka Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla tidak hanya mengancam kesehatan manusia, tetapi juga berdampak terhadap kesehatan hewan peliharaan. Di Paws Health Vet Clinic Palangka Raya, kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA dan sesak napas pada kucing mengalami peningkatan selama tiga bulan terakhir.
Dokter hewan Dinda Rahma Hadiputri, dokter senior di Paws Health Vet Clinic, mengatakan jumlah pasien dengan gangguan pernapasan meningkat sekitar 30 persen selama periode kabut asap tersebut.
“Selama kabut asap ini, selama tiga bulan ada peningkatan 30 persen pasien yang mengalami kasus ISPA dan sesak,” ujar drh Dinda kepada Borneonews pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Biasanya pasien kucing terserang ISPA dengan gejala bersin dan flu itu 10 ekor per bulan jadi naik sekitar 13-14 ekor dalam tiga bulan terakhir ini. Meski naiknya sedikit namun gejala sakitnya meningkat, yang biasanya hanya flu dan bersin, semenjak kabut asap ini sampai sesak nafas hingga membutuhkan oksigen.
Menurut Dinda, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena kucing termasuk hewan yang rentan mengalami gangguan pernapasan akibat paparan lingkungan. Keluhan yang muncul bervariasi, mulai dari flu, bersin, dan hidung berair hingga sesak napas yang membutuhkan penanganan medis.
Pada kasus yang lebih berat, kucing harus mendapatkan bantuan oksigen, cairan infus, serta obat-obatan untuk mengurangi gejala sesak napas. Penanganan juga disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing pasien.
Dinda mengungkapkan, pihaknya menangani pasien dengan kondisi yang cukup serius akibat gangguan pernapasan selama kabut asap.
"Untuk hari ini saja ada dua kucing yang datang untuk mendapatkan perawatan mengalami ISPA, sesak napas, dan kondisi tubuh lemas," tambahnya.
Kenaikan kasus tersebut dinilai cukup signifikan. Selain berdampak terhadap kesehatan hewan, kondisi ini juga menjadi tantangan bagi pemilik yang memelihara banyak kucing sekaligus.
Menurutnya, tidak semua pemilik hewan mudah menyediakan ruang terpisah untuk mengarantina kucing yang sakit. Padahal, pembatasan aktivitas di luar rumah dan pengurangan paparan polusi menjadi bagian penting dalam penanganan.
Dinda mengingatkan pemilik agar tidak mengabaikan gejala awal gangguan pernapasan. Kucing yang mulai bersin, mengalami flu, atau mengeluarkan cairan dari hidung sebaiknya segera diperiksakan agar kondisinya tidak berkembang menjadi lebih parah.
“Kalau ada gejala, langsung diobati. Kalau ditangani sejak awal, sebenarnya tidak mahal. Lebih mahal kalau sudah terlanjur parah dan harus mendapatkan infus serta oksigen,” jelasnya.
Ia berharap upaya penanganan karhutla dapat dilakukan secara serius agar kabut asap tidak terus mengancam kesehatan manusia maupun hewan. Bagi tenaga medis hewan, meningkatnya pasien dengan gangguan pernapasan menjadi keprihatinan tersendiri, terlebih ketika ada hewan yang tidak berhasil diselamatkan. (TESTI PRISCILLA/j)









