PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla mulai dirasakan dampaknya oleh sektor perhotelan di Kalimantan Tengah. Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya mencatat penurunan tingkat hunian kamar sekitar 9,10 persen pada September 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Directur of Sales Marketing, Bona Simanjuntak mengatakan karhutla berdampak terhadap kunjungan tamu maupun tingkat hunian hotel.

“Selama karhutla ini kami sangat merasakan dampaknya, tentunya penurunan dalam kunjungan tamu maupun penurunan dalam tingkat hunian,” ungkap Putri saat menyampaikan keterangan kepada Borneo News pada Sabtu, 17 Oktober 2026.

Menurutnya, jika dibandingkan dengan September 2025, penurunan yang dialami Swiss-Belhotel Danum Palangka Raya pada September 2026 mencapai sekitar 9,10 persen.

Penurunan tersebut menjadi gambaran tekanan yang dihadapi pelaku usaha perhotelan di tengah kondisi kabut asap. Meski hotel dapat menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin menghindari paparan asap di luar ruangan, kondisi itu belum tercermin dalam peningkatan kunjungan maupun hunian di hotel tersebut.

Tren penurunan tingkat hunian juga tercatat dalam data Badan Pusat Statistik atau BPS Kalimantan Tengah. Statistisi Ahli Madya BPS Kalteng, Taufiqurrahman, menyampaikan bahwa tingkat penghunian kamar atau TPK hotel klasifikasi bintang pada Agustus 2026 mencapai 45,77 persen.

"Angka tersebut turun 2,74 poin dibandingkan Juli 2026. Jika dibandingkan dengan bulan yang sama pada 2025, TPK hotel bintang juga mengalami penurunan sebesar 3,46 poin," kata Taufiqurrahman.

Berdasarkan klasifikasinya, penurunan secara tahunan terjadi pada hotel bintang satu sebesar 2,08 poin, hotel bintang dua sebesar 9,30 poin, serta hotel bintang tiga sebesar 7,59 poin. Sebaliknya, hotel bintang empat dan lima mencatat kenaikan TPK sebesar 3,51 poin.

Kondisi berbeda terlihat pada hotel nonbintang dan akomodasi lainnya. Pada Agustus 2026, TPK kelompok tersebut mencapai 22,92 persen atau naik 0,13 poin dibandingkan Juli 2026. Secara tahunan, tingkat hunian hotel nonbintang dan akomodasi lainnya juga meningkat 0,82 poin.

Data BPS tersebut memperlihatkan bahwa penurunan hunian tidak terjadi merata pada seluruh segmen akomodasi. Hotel bintang secara umum mengalami penurunan secara tahunan, sedangkan kelompok nonbintang dan akomodasi lainnya justru mencatat kenaikan.

Meski demikian, data BPS untuk Agustus dan keterangan Swiss-Belhotel untuk September memiliki periode serta cakupan berbeda. Angka tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa kabut asap menjadi satu-satunya penyebab penurunan okupansi hotel. Namun, keterangan pelaku usaha menunjukkan bahwa karhutla turut dirasakan sebagai tekanan terhadap kunjungan dan tingkat hunian.

Dampak tersebut menambah gambaran luasnya konsekuensi karhutla bagi Kalimantan Tengah. Selain mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat, kabut asap juga menjadi tantangan bagi sektor usaha yang bergantung pada mobilitas, perjalanan, dan kunjungan tamu. (TESTI PRISCILLA/j)