BORNEONEWS, Palangka Raya – Gangguan pernapasan akibat kabut asap menjadi tantangan tersendiri bagi penanganan kesehatan hewan peliharaan. Di Paws Health Vet Clinic, terapi nebulizer digunakan untuk membantu menangani kucing yang mengalami ISPA dengan gejala flu, bersin, dan keluarnya cairan dari hidung.
Dokter hewan Dinda Rahma Hadiputri mengatakan salah satu pasien yang menjalani terapi tersebut adalah kucing bernama Tembem. Kucing itu mengalami gangguan pernapasan dengan gejala yang relatif ringan dibandingkan pasien yang sudah mengalami sesak napas.
“Tembem kena ISPA, tetapi gejalanya hanya flu, bersin, dan keluar ingusnya sehingga pemasangan nebulizer setiap hari untuk mengurangi lendir di hidungnya,” kata drh Dinda kepada Borneonews pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Nebulizer merupakan alat yang digunakan untuk mengubah cairan obat tertentu menjadi partikel halus agar dapat dihirup sesuai kebutuhan terapi. Pada pasien yang mengalami gangguan pernapasan, penggunaannya harus disesuaikan dengan kondisi hewan dan arahan dokter hewan.
"Nebulizer khusus untuk hewan memang tidak ada ya, jadi alatnya sama saja dengan yang untuk manusia. Hanya saja hewan ini kan perilakunya lain, tidak bisa kita suruh diam atau duduk seperti menyuruh pasien manusia, karenanya kita buatkan seadanya khusus untuk hewan, terutama kucing," katanya lagi.
Alat ini dibuat berupa kotak kandang yang dialiri oksigen beserta obat nebulizer sehingga hewan yang sedang sakit cukup berada di dalam kotak, tanpa dipasangi masker oksigen seperti pada manusia.
Dinda menjelaskan, penanganan pasien dilakukan berdasarkan gejala dan tingkat keparahan penyakit. Kucing dengan keluhan ringan tetap perlu dipantau agar kondisinya tidak berkembang, terutama ketika paparan kabut asap masih berlangsung.
Sementara itu, pasien dengan sesak napas dan kondisi tubuh lemah membutuhkan penanganan lebih intensif. Tindakan medis dapat meliputi pemberian oksigen, cairan infus, serta obat-obatan sesuai hasil pemeriksaan.
Menurut Dinda, paparan lingkungan yang buruk dapat menjadi faktor yang memperberat gangguan pernapasan pada kucing. Karena itu, penanganan di klinik perlu disertai upaya mengurangi paparan polusi di lingkungan tempat tinggal.
Ia menyarankan pemilik menempatkan kucing yang sakit di ruangan tertutup dengan pendingin udara atau AC dan pembersih udara atau air purifier, jika tersedia. Kucing yang masih menunjukkan gejala ringan juga sebaiknya tidak dibiarkan keluar rumah selama kabut asap belum hilang.
"Pemilik perlu memperhatikan perubahan kondisi hewan sejak awal. Gejala seperti bersin, flu, dan hidung berair sebaiknya tidak dianggap sepele, terlebih jika berlangsung ketika kabut asap menyelimuti wilayah tempat tinggal," tuturnya.
Dengan pemeriksaan dan penanganan lebih dini, risiko kondisi semakin parah diharapkan dapat ditekan. Pemilik juga disarankan berkonsultasi dengan dokter hewan untuk menentukan terapi yang sesuai, termasuk penggunaan nebulizer. (TESTI PRISCILLA/j)









