BORNEONEWS, Palangka Raya – Dampak kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla terhadap kesehatan hewan menjadi perhatian dokter hewan di Paws Health Vet Clinic. Selain menangani kucing yang mengalami gangguan pernapasan, klinik tersebut juga menerima seekor ular yang diduga mulai mengalami infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Dokter hewan Dinda Rahma Hadiputri, dokter senior Paws Health Vet Clinic, mengatakan ular tersebut diantar pemiliknya ke klinik dengan gejala muntah. Berdasarkan gejala awal yang terlihat, hewan itu diduga mulai mengalami gangguan kesehatan yang mengarah pada ISPA, meski kondisinya belum terlalu parah.
“Sepertinya mulai kena ISPA, tetapi belum terlalu parah, karena dia ada gejala muntah,” ujar Dinda kepada Borneonews.
Temuan tersebut menambah daftar hewan yang membutuhkan perhatian medis di tengah kondisi kabut asap akibat karhutla. Sebelumnya, klinik juga menangani pasien kucing dengan gangguan pernapasan, mulai dari flu, bersin, dan hidung berair hingga sesak napas yang memerlukan penanganan intensif.
Dinda mengungkapkan, selama tiga bulan periode kabut asap, jumlah pasien dengan kasus ISPA dan sesak napas di kliniknya meningkat sekitar 30 persen.
"Kalau sebelum karhutla pasien ISPA itu ada, terutama pada kucing ya, sekitar 10 ekor per bulan. Tapi selama kabut asap ini meningkat sampai 13-14 ekor per bulan," tambahnya.
Meski kelihatannya kenaikan yang terjadi tidak banyak, justru gejala yang dialami pasien makin berat.
"Kalau biasanya yang 10 ekor itu hanya bersin dan flu, di saat karbut asap ini malah gejalanya semakin parah sampai harus dinebu dan mendapat oksigen," jelasnya.
Peningkatan tersebut menjadi perhatian karena gangguan kesehatan tidak hanya terlihat pada hewan dengan gejala ringan, tetapi juga pada pasien yang membutuhkan bantuan oksigen dan infus.
Pada kasus kucing dengan kondisi berat, penanganan medis meliputi pemberian oksigen, cairan infus, serta obat-obatan untuk membantu mengurangi gejala sesak napas. Sementara itu, pasien dengan keluhan lebih ringan, seperti bersin dan hidung berair, mendapatkan penanganan sesuai kondisi masing-masing.
Dinda mengimbau pemilik hewan agar lebih memperhatikan perubahan kondisi peliharaannya selama kabut asap masih terjadi. Gejala yang tidak biasa, termasuk gangguan pernapasan, muntah, atau perubahan perilaku, perlu mendapat perhatian dan pemeriksaan dokter hewan.
Ia juga menyarankan pemilik mengurangi paparan kabut asap dengan menjaga hewan tetap berada di dalam ruangan. Untuk kucing yang mengalami gejala gangguan pernapasan, pemilik dapat menyiapkan ruangan dengan AC dan air purifier jika tersedia, serta tidak membiarkan hewan keluar rumah sampai kondisi udara membaik.
"Pemeriksaan sejak awal penting agar gangguan kesehatan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi lebih berat. Penanganan juga perlu disesuaikan dengan jenis hewan, gejala, dan hasil pemeriksaan medis," tuturnya lagi.
Ia berharap pengendalian karhutla dapat dilakukan secara serius sehingga kabut asap tidak terus mengancam kesehatan manusia maupun hewan. Dampak asap, menurutnya, menjadi keprihatinan tersendiri bagi tenaga medis yang harus menangani hewan dengan kondisi kesehatan yang memburuk. (TESTI PRISCILLA/J)









