KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas – YR, 35, bukan orang yang tidak memahami risiko. Pria di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, ini merupakan lulusan perguruan tinggi yang pernah menekuni pekerjaan profesional. Namun, selama sekitar enam tahun, ia terjebak dalam perjudian online atau judol yang berulang kali merusak kehidupannya.

YR mulai mengenal judi online pada masa pandemi Covid-19 setelah terpengaruh seorang teman. Sejak itu, ia masuk dalam lingkaran permainan yang mempertemukannya dengan kemenangan dan kerugian secara berulang. Ia pernah merasakan kemenangan besar dari permainan slot online, bahkan nilainya mencapai sekitar 10 kali gajinya.

Namun, uang tersebut habis dalam waktu kurang dari sebulan. Kemenangan yang sempat memberinya harapan itu tidak mengubah pola perilakunya. YR kembali berjudi dan menghadapi kerugian yang membuat kondisi keuangannya semakin terpuruk.

Dampaknya meluas ke berbagai sisi kehidupan. YR kehilangan pekerjaan, menjual harta benda, terlilit utang, dan rumah tangganya berakhir dengan perceraian. Meski mengalami berbagai kerugian, ia tetap kembali berjudi, bahkan setelah mendapat bantuan dan kesempatan untuk bekerja lagi.

Pola tersebut terus berulang. Ketika uang habis dan kehidupannya terpuruk, YR berusaha bangkit dengan bantuan keluarga atau kerabat. Namun, setelah memperoleh pekerjaan dan menerima gaji, ia kembali bermain. Kemenangan sesekali memberinya harapan, tetapi kerugian kembali membuatnya terpuruk.

Siklus jatuh dan bangkit itu telah terjadi lebih dari belasan kali. YR menyadari bahwa kebiasaannya membawa dampak buruk, tetapi kesadaran tersebut belum cukup membuatnya berhenti. Pengalaman itu menjadi gambaran bagaimana seseorang dapat memahami risiko yang dihadapi, tetapi tetap kesulitan mengendalikan perilakunya.

“Menurut saya, judol ini jauh lebih berbahaya. Kenapa? Karena keluarga, teman, sahabat, masyarakat, bahkan istri saya sekalipun tidak bisa melihat ini sebagai penyakit adiksi, berbeda dengan narkoba. Itu yang membuat saya tertekan,” cerita YR kepada Borneonews, Minggu, 18 Oktober 2026.

Bagi YR, persoalan yang dihadapi bukan hanya kehilangan uang, tetapi juga sulitnya orang di sekitarnya memahami kecanduan yang dialaminya. Ketika perilaku berjudi terus berulang, orang lain mungkin melihatnya sebagai kebodohan atau ketidakmampuan berpikir panjang. Padahal, seseorang yang memahami akibat perbuatannya pun dapat mengalami kesulitan menghentikan perilaku adiktif.

Kisah YR memperlihatkan kontras antara latar belakang pendidikan dan kecanduan yang menjeratnya. Ia mengetahui risikonya dan telah merasakan akibatnya, tetapi tetap kesulitan berhenti. Pengalaman ini menunjukkan bahwa kecanduan judi tidak selalu dapat dijelaskan sebagai kebodohan atau lemahnya kemauan semata. Persoalannya lebih kompleks dan perlu dipahami secara serius, bukan hanya dihakimi. (SABRIANOOR/H)