BORNEONEWS, Sampit - Bupati Kotawaringin Timur (Kotim) Halikinnor mendorong agar program tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR) dapat dinikmati secara merata, tidak hanya terpusat di desa sekitar lokasi operasional perusahaan. Pemerintah daerah pun telah membentuk forum CSR agar pelaksanaannya lebih terorganisir.
"Memang khusus untuk perusahaan karena sesuai dengan ketentuan perundangan, ada kewajiban korporasi perusahaan itu untuk program CSR-nya terhadap di mana dia beroperasi atau berdomisili," kata Halikinnor, Selasa, 20 Oktober 2026.
Menurutnya, sebagian besar perusahaan di Kotim sudah melaksanakan program CSR. Namun, selama ini pelaksanaannya kerap hanya menyasar desa-desa di sekitar perusahaan berada.
Halikinnor menjelaskan, kondisi tersebut menimbulkan ketimpangan karena sebaran perusahaan di Kotim tidak merata. Berdasarkan tata ruang daerah, wilayah utara merupakan kawasan perkebunan, wilayah tengah menjadi pusat perdagangan, jasa, dan pemerintahan, sedangkan wilayah selatan sebagai penyangga pangan.
"Daerah selatan atau daerah tengah ini tidak ada perusahaan-perusahaan besar seperti perkebunan dan pertambangan. Kalau tidak dikoordinasikan dengan pemerintah daerah, maka penggunaan CSR hanya di sekitar wilayah mereka berada. Sementara ada desa atau daerah tertentu yang juga sangat membutuhkan program CSR itu," ujarnya.
Ia mencontohkan kondisi di wilayah Desa Lampuyang, di mana terdapat sekolah dengan meuble yang sudah tidak layak pakai. Karena keuangan daerah belum mampu memperbaikinya, kebutuhan seperti itu dapat dibantu melalui dana CSR perusahaan.
Karena itu, mulai tahun depan pemerintah daerah akan menertibkan pelaksanaan CSR agar dikoordinasikan melalui forum yang telah dibentuk.
Kebutuhan pembangunan yang belum terbiayai APBD provinsi, APBD kabupaten, maupun dana pusat diharapkan dapat ditopang oleh CSR perusahaan yang beroperasi di Kotim.
"Jadi CSR ini kita pergunakan untuk daerah-daerah yang minus, supaya ada manfaat yang bisa merata, khususnya untuk Kotim," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)









