SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Krisis air bersih yang melanda warga Bumi Ayu, RT 26 RW 07, Kelurahan Ketapang, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), membuat masyarakat bergantung pada pasokan bantuan. Kondisi air ledeng yang terasa payau hingga asin, ditambah sumur bor yang mengering, memaksa warga mencari sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kami sangat terbantu. Enggak cuma air ledeng yang asin, air beli di depo isi ulang pun enggak enak. Bikin kopi kok rasanya asin," ungkap Rahmad, salah seorang warga, Rabu, 21 Oktober 2026.

Di tengah keterbatasan tersebut, Kodim 1015/Sampit menyalurkan bantuan sebanyak 4.000 liter air bersih secara gratis. Air diangkut menggunakan armada pemadam kebakaran untuk membantu memenuhi kebutuhan warga yang kesulitan memperoleh air layak.

Kedatangan bantuan itu langsung dimanfaatkan masyarakat. Warga berdatangan membawa berbagai wadah kosong, mulai dari galon hingga jeriken. Ada yang mengangkutnya menggunakan gerobak, sementara warga lainnya membawa wadah dengan sepeda motor.

Secara bergantian, mereka mengantre untuk mendapatkan air yang kemudian dibawa pulang ke rumah masing-masing. Bantuan tersebut menjadi sumber pasokan sementara di tengah terbatasnya ketersediaan air di lingkungan mereka.

Ketua RT 26 RW 07 Kelurahan Ketapang Bahrul Maji mengatakan penyaluran air bersih diperlukan untuk meringankan kesulitan warga. Pasalnya, air ledeng yang mengalir ke rumah-rumah tidak lagi nyaman digunakan untuk sejumlah kebutuhan, sedangkan sumur bor yang selama ini menjadi sumber alternatif mulai mengering.

"Ini sebagai upaya membantu masyarakat yang kini mengalami krisis air bersih. Terutama di wilayah ini, air ledeng terasa payau, bahkan cenderung asin. Sementara air sumur bor warga sudah mengering," ujarnya.

Bahrul berharap bantuan air bersih dapat disalurkan secara berkala dan menjangkau lebih banyak warga yang membutuhkan. Menurutnya, langkah tersebut penting apabila krisis air masih berlangsung dan sumber air yang tersedia belum kembali normal.

Sebagai upaya mengantisipasi kesulitan serupa, pihak RT juga berencana mengupayakan penyediaan tandon penampungan air di setiap kompleks. Dengan adanya tempat penampungan, air bantuan dapat dikumpulkan terlebih dahulu sebelum dibagikan kepada warga.

"Nanti ini akan kami agendakan, setiap kompleks kalau bisa menyediakan satu tandon yang siap menampung dan selanjutnya dibagikan kepada warga yang membutuhkan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)