BORNEONEWS, Jakarta - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi menyampaikan, pihaknya menggencarkan edukasi keuangan kepada kalangan pelajar dan pemuda guna mencegah rekening menjadi tidak aktif (dormant) sehingga berpotensi disalahgunakan.
Upaya itu dilakukan seiring dengan pengembangan Program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) melalui produk Simpanan Pelajar (SIMPEL).
“Makanya terus kita lakukan edukasi supaya rekening-rekening ini terus menemani anak-anak itu, enggak cuma dari sekolah tapi nanti ke pelajar, karena nanti bisa pindah dari SIMPEL bisa ke SiMuda,” kata Friderica atau yang akrab disapa Kiki dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis 22 Oktober 2026.
Ia menjelaskan rekening yang tidak aktif perlu menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan risiko penyalahgunaan, terutama apabila pemilik rekening tidak menjaga keamanan informasi pribadi, seperti nomor identifikasi pribadi (PIN).
Program KEJAR sendiri tercatat telah menjangkau 88,57 persen pelajar di Indonesia, dengan total 59,18 juta rekening dan nilai tabungan mencapai Rp27 triliun.
Meski demikian, menurut Kiki kepemilikan rekening perlu diikuti dengan pendampingan agar pelajar terbiasa menggunakan layanan keuangan secara aman dan bertanggung jawab.
OJK juga mendorong keberlanjutan kebiasaan menabung melalui produk keuangan yang sesuai dengan tahapan usia dan kebutuhan nasabah.
Setelah menggunakan SIMPEL, pelajar dapat beralih ke Simpanan Pemuda (SiMuda). Produk tersebut diharapkan dapat membantu generasi muda merencanakan kebutuhan keuangan.
"Kalau SiMuda, simpanan pemuda itu, bisa nanti dia mau apa, bisa sebagian disisihkan untuk beli properti gitu ya. Jadi tergantung dia targetnya apa atau masuk ke reksa dana dan lain-lain. Jadi harapannya tabungan-tabungan ini menemani anak-anak ini dari mulai sekolah sampai nanti dewasa. Makanya harus dibimbing supaya enggak jadi dormant," ujarnya.
ANTARA









