KALAU berbicara tentang perpustakaan, mungkin sebagian orang masih berpikir bahwa perpustakaan hanya tempat menyimpan buku, meminjam buku, dan membaca. Padahal, peran perpustakaan jauh lebih luas dari itu. Perpustakaan merupakan salah satu tempat penting untuk membangun kebiasaan membaca, menambah pengetahuan, dan mengembangkan kemampuan masyarakat dalam mencari serta memanfaatkan informasi.
Dalam kaitannya dengan hal tersebut, ada satu istilah yang perlu kita kenal bersama, yaitu IPLM atau Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat.
Secara sederhana, IPLM merupakan ukuran yang menggambarkan capaian pembangunan literasi dan pengembangan perpustakaan di suatu daerah. Melalui IPLM, kita bisa melihat bagaimana dukungan fasilitas perpustakaan, tenaga pengelola, koleksi bahan bacaan, layanan, dan kegiatan literasi berjalan serta dimanfaatkan oleh masyarakat.
Nah, yang perlu kita pahami, pembangunan literasi bukan hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan umum atau dinas perpustakaan. Perpustakaan sekolah juga memiliki peran penting di dalamnya.
Perpustakaan Sekolah Jangan Hanya Ada, tetapi Harus Aktif
Kita tentu sepakat bahwa hampir setiap sekolah membutuhkan perpustakaan. Namun, pertanyaannya, apakah perpustakaan tersebut sudah benar-benar dimanfaatkan?
Ada perpustakaan yang memiliki banyak buku, tetapi kunjungannya masih sedikit. Ada juga perpustakaan yang ruangannya sudah bagus, tetapi kegiatan literasinya belum berjalan secara rutin. Bahkan, terkadang perpustakaan hanya ramai ketika ada kegiatan tertentu atau saat siswa mendapat tugas dari guru. Padahal, keberhasilan perpustakaan tidak cukup dilihat dari keberadaan ruangan dan banyaknya koleksi. Perpustakaan juga perlu menunjukkan aktivitas nyata yang memberikan manfaat bagi siswa. Misalnya, berapa banyak siswa yang memanfaatkan layanan perpustakaan? Berapa buku yang dipinjam setiap bulan? Apakah ada kegiatan membaca bersama, membaca nyaring, diskusi buku, lomba menulis, atau kegiatan literasi digital? Apakah guru sudah memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber belajar?
Hal-hal seperti ini perlu menjadi perhatian pengelola perpustakaan sekolah.
Dalam konteks IPLM, keberadaan fasilitas tetap penting, tetapi pemanfaatan dan kinerja perpustakaan juga perlu mendapat perhatian. Jadi, perpustakaan tidak cukup hanya terlihat bagus secara fisik, tetapi juga harus hidup dengan berbagai kegiatan yang mendorong budaya membaca.
Apa Hubungan IPLM dengan Perpustakaan Sekolah?
Hubungannya sangat erat. Perpustakaan sekolah menjadi salah satu bagian dari ekosistem perpustakaan dan literasi di daerah. Sekolah membantu menanamkan kebiasaan membaca sejak dini, menyediakan akses terhadap bahan bacaan, serta memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemampuan literasinya.
Karena itu, data tentang kondisi dan aktivitas perpustakaan sekolah menjadi penting dalam pendataan pembangunan literasi, sesuai dengan cakupan dan ketentuan yang berlaku.
Pengelola perpustakaan sekolah perlu memperhatikan pengisian borang atau kuesioner IPLM apabila diminta melalui mekanisme resmi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau dinas perpustakaan daerah. Pengisian tersebut sebaiknya dilakukan dengan teliti, berdasarkan data yang benar, dan sesuai dengan kondisi nyata perpustakaan. Jangan sampai data yang dilaporkan hanya sekadar memenuhi permintaan administrasi. Data seharusnya menggambarkan keadaan perpustakaan yang sebenarnya agar bisa menjadi bahan evaluasi dan perbaikan.
Data Perpustakaan Itu Penting, Jangan Dianggap Sepele
Kadang-kadang, mengisi data perpustakaan dianggap sebagai pekerjaan tambahan. Pengelola harus mencatat jumlah koleksi, penambahan buku, anggaran, kunjungan, peminjaman, kegiatan literasi, fasilitas teknologi informasi, hingga pelatihan tenaga perpustakaan. Memang, kalau tidak dibiasakan, pekerjaan ini bisa terasa merepotkan. Namun, sebenarnya pencatatan tersebut sangat bermanfaat bagi pengelola perpustakaan sendiri.
Dengan data yang tertata, kita bisa mengetahui perkembangan layanan dari waktu ke waktu. Kita juga dapat melihat bagian mana yang sudah berjalan baik dan bagian mana yang masih perlu diperbaiki. Misalnya, catatan menunjukkan bahwa jumlah pengunjung meningkat, tetapi peminjaman buku masih rendah. Dari situ, pengelola bisa mencari penyebabnya. Mungkin koleksi belum sesuai dengan minat siswa, promosi buku belum menarik, atau layanan peminjaman belum dimanfaatkan secara maksimal. Contoh lainnya, jika kegiatan literasi sudah banyak dilakukan, pengelola dapat mencatat jumlah kegiatan, peserta, jenis kegiatan, dan hasil yang dicapai. Dokumentasi tersebut bisa menjadi bukti bahwa perpustakaan benar-benar menjalankan fungsinya.
Jadi, pencatatan bukan hanya untuk kepentingan laporan IPLM, akreditasi, atau administrasi sekolah. Data juga membantu kita mengelola perpustakaan dengan lebih baik.
Apa yang Harus Dilakukan Perpustakaan Sekolah?
Sebenarnya, tidak perlu langsung membuat program yang besar atau membutuhkan biaya mahal. Kita bisa mulai dari kegiatan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
Pertama, membiasakan siswa membaca buku dan memanfaatkan layanan perpustakaan. Kedua, mencatat setiap peminjaman dan pengembalian buku dengan tertib. Ketiga, membuat kegiatan literasi yang menarik, seperti membaca nyaring, diskusi buku, menulis cerita, atau pameran karya siswa. Keempat, memanfaatkan teknologi sesuai kemampuan sekolah, misalnya katalog daring, koleksi digital, atau kode QR untuk memudahkan akses bahan bacaan. Kelima, meningkatkan kemampuan pengelola melalui pelatihan dan berbagi pengalaman dengan perpustakaan lain. Sekolah juga perlu memberikan dukungan berupa anggaran, fasilitas, koleksi, dan waktu bagi pengelola untuk mengembangkan layanan perpustakaan.
Selain itu, kerja sama dengan guru, kepala sekolah, orang tua, perpustakaan umum, perpustakaan desa, dan taman bacaan masyarakat juga perlu diperkuat. Dengan bekerja bersama, kegiatan literasi tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi dapat berkembang sampai ke lingkungan keluarga dan masyarakat. Yang tidak kalah penting, semua kegiatan harus dicatat dan dievaluasi. Dengan begitu, perpustakaan memiliki bukti nyata tentang apa yang sudah dilakukan dan manfaat yang dihasilkan.
Mari Bersama Meningkatkan IPLM dari Sekolah
IPLM bukan sekadar angka yang muncul dalam laporan suatu daerah. Di balik angka tersebut, ada upaya banyak pihak untuk menyediakan akses informasi, mengembangkan perpustakaan, dan menumbuhkan budaya literasi.
Perpustakaan sekolah memang tidak bekerja sendirian dalam meningkatkan IPLM. Namun, kontribusinya tetap penting karena sekolah menjadi tempat siswa mulai mengenal buku, membangun kebiasaan membaca, dan belajar menggunakan informasi secara bijak. Karena itu, mari kita jadikan pengisian data IPLM sebagai kesempatan untuk melihat kembali kondisi perpustakaan masing-masing. Apakah koleksi sudah sesuai kebutuhan? Apakah layanan sudah dimanfaatkan? Apakah kegiatan literasi berjalan? Apakah data sudah dicatat dengan baik? Dan yang paling penting, apakah siswa benar-benar merasakan manfaat perpustakaan?
Jika setiap sekolah mau berbenah dan bergerak bersama, upaya pembangunan literasi di daerah akan semakin kuat.
Ingat, perpustakaan yang baik bukan hanya perpustakaan yang memiliki banyak buku, tetapi perpustakaan yang membuat buku dibaca, pengetahuan bertambah, dan budaya literasi tumbuh. Dari perpustakaan sekolah, kita ikut membangun generasi yang gemar membaca, cakap mengolah informasi, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
Penulis: Nopiar Rahman (Kak Nono) adalah pengelola erpustakaan Cendekia SMP Tunas Agro/ Founder TBM Grup Literasi Gawi Hatantiring Seruyan









