BORNEONEWS, Jakarta – Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah yang perlu mewaspadai dampak kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan hingga awal 2027 seiring El Nino sangat kuat yang berpotensi membuat awal musim hujan mundur.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyiapkan sejumlah langkah mitigasi dengan menyesuaikan perkembangan cuaca dan kondisi lapangan.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan pemutakhiran data cuaca dari BMKG terus dipantau untuk mengantisipasi kekeringan berkepanjangan.
“Kami terus memantau dan mengevaluasi setiap pemutakhiran data cuaca yang disampaikan BMKG terkait potensi kekeringan berkepanjangan,” kata Berton dikutip Jumat, 23 Oktober 2026.
BNPB bersama kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah juga menyusun langkah penanganan harian hingga mingguan, termasuk untuk mengendalikan karhutla.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca untuk meningkatkan peluang hujan.
“Misalnya, operasi modifikasi cuaca untuk memperbesar potensi hujan dengan menyemai NaCl dan semacamnya. Satuan tugas udara masih terus bekerja sesuai analisisnya,” ujarnya.
Dalam laporan BNPB, luas lahan terbakar yang telah ditangani di Kalimantan Tengah mencapai 7.938 hektare.
Angka tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan sejumlah provinsi prioritas lain yang disebutkan BNPB, yakni Sumatera Selatan 5.194 hektare, Jambi 2.025 hektare, Kalimantan Selatan 1.974 hektare, dan Kalimantan Barat 1.290 hektare.
Selain penanganan kebakaran, BNPB bersama pemerintah daerah dan lembaga nirlaba juga menyalurkan bantuan air bersih di wilayah yang mengalami kekeringan.
BMKG sebelumnya menyampaikan anomali suhu muka laut di Samudra Pasifik mencapai +2,63 derajat Celsius yang menunjukkan El Nino kategori sangat kuat.
Fenomena tersebut diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dan berpotensi membuat musim hujan datang lebih lambat di sebagian besar wilayah Indonesia.
BMKG memperkirakan keterlambatan awal musim hujan terjadi pada 529 Zona Musim atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia.
Musim hujan diperkirakan mulai masuk bertahap pada November 2026 di 185 Zona Musim, kemudian meluas pada Desember 2026 di 266 Zona Musim.
Puncak musim hujan diprediksi terjadi bertahap pada Desember 2026, Januari 2027, hingga Februari 2027.
BNPB menyatakan evaluasi kesiapsiagaan dan mitigasi akan terus dilakukan agar penanganan bencana dapat disesuaikan dengan perkembangan kondisi.
“Kami akan melakukan evaluasi setiap saat untuk kesiapsiagaan dan mitigasi, termasuk menentukan langkah-langkah yang perlu dilakukan ke depan,” kata Berton.
SUMBER: ANTARA









