PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palangka Raya meningkatkan pemantauan kesehatan hewan di tengah ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla. Meski laporan resmi kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada hewan masih minim, potensi gangguan kesehatan akibat paparan asap tetap diwaspadai.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran Hasil Ternak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kota Palangka Raya, drh Ganjar Priyatno, mengatakan, minimnya laporan kasus ISPA pada hewan tidak serta-merta menunjukkan kondisi di lapangan aman. Sebab, pemilik hewan maupun peternak kerap menganggap gejala flu, batuk, dan lemas sebagai dampak perubahan cuaca atau pancaroba biasa.

“Pemilik hewan belum tentu menyadari bahwa paparan partikel halus dari asap juga bisa berdampak terhadap kesehatan hewan,” kata drh Ganjar pada Jumat, 23 Oktober 2026.

Sejauh ini, kata Ganjar, keluhan yang masuk ke pusat kesehatan hewan (Puskeswan) didominasi ternak unggas dan mamalia kecil. Gejala yang ditemukan antara lain penurunan nafsu makan, iritasi mata, hingga batuk ringan.

Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, tim medis veteriner diterjunkan langsung ke lapangan guna memantau kondisi kesehatan hewan, terutama ketika Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

“Kami menurunkan tim medik dan paramedik untuk pemantauan lapangan, terutama saat ISPU masuk kategori tidak sehat hingga berbahaya,” terang Ganjar lagi.

Pemantauan difokuskan pada sentra peternakan sapi, kambing, dan unggas di kecamatan yang rawan terdampak karhutla. Wilayah sasaran meliputi Kecamatan Jekan Raya, Sebangau, dan Pahandut.

Ganjar mengimbau masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi gangguan kesehatan pada hewan peliharaan maupun ternak. Pemilik dapat membawa hewan ke Puskeswan Palangka Raya, menghubungi call center, atau menyampaikan laporan melalui media sosial resmi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan.

Laporan juga dapat disampaikan melalui penyuluh pertanian lapangan (PPL) di wilayah masing-masing. Selanjutnya, petugas akan meneruskan informasi tersebut kepada tim medis hewan untuk ditindaklanjuti.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan hewan, termasuk pembagian vitamin gratis. Edukasi mengenai pengelolaan kandang dalam kondisi darurat karhutla juga diberikan kepada kelompok tani.

Selain itu, pemilik anjing dan kucing disarankan membatasi aktivitas hewan di luar rumah selama kabut asap. Peternak juga diminta memastikan pakan dan air minum tidak tercemar abu pembakaran.

Kandang perlu ditutup dari arah datangnya asap, tetapi sirkulasi udara tetap harus diperhatikan agar ventilasi tidak terganggu. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi paparan langsung asap terhadap hewan.

Dalam penanganannya, prinsip one health turut diterapkan melalui kolaborasi dengan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI), klinik hewan swasta, dan komunitas pecinta hewan. Kerja sama ini dilakukan untuk menyelaraskan pendataan serta penanganan kesehatan hewan di lapangan.

Sementara itu, untuk satwa liar yang terdampak kebakaran, Ganjar menjelaskan bahwa kewenangan utama penanganannya berada pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah dan pengelola Taman Nasional Sebangau.

Meski demikian, pihaknya siap membantu penanganan medis apabila ditemukan satwa liar terluka yang masuk ke kawasan permukiman warga.

Jika kabut asap berlangsung dalam waktu lama, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan juga menyiapkan langkah antisipasi lanjutan, mulai dari pengoperasian mobile clinic atau layanan kesehatan hewan keliling, penambahan stok obat-obatan, hingga pembagian vitamin gratis.

Ganjar berharap masyarakat dan peternak lebih peka terhadap perubahan kondisi kesehatan hewan selama karhutla. Pelaporan sejak dini dinilai penting agar gangguan kesehatan dapat segera ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius. (TESTI PRISCILLA/H)