PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Posko Penanganan Darurat Bencana (PDB) Karhutla Provinsi Kalimantan Tengah mencatat 770 titik panas (hotspot) di seluruh provinsi pada Minggu 25 Oktober 2026.

Data BRIN dan SiPongi itu tercantum dalam infografis harian pukul 18.00 WIB. Jumlah tersebut turun sekitar 90 persen dari 8.048 titik pada laporan sehari sebelumnya. Laporan tidak menjelaskan penyebab penurunan itu.

Hampir seluruh hotspot berkonfidensi sedang, yakni 768 titik. Masing-masing satu titik berkonfidensi rendah (Katingan) dan tinggi (Kotawaringin Timur).

Hotspot terbanyak tercatat di Seruyan (160 titik), disusul Pulang Pisau (157), Kapuas (130), Katingan (129), dan Kotawaringin Barat (114).

Wilayah lain lebih sedikit: Kotawaringin Timur 30 titik, Kota Palangka Raya 27, Sukamara 15, Barito Selatan 6, dan Gunung Mas 2. Barito Timur, Barito Utara, Lamandau, dan Murung Raya tidak mencatat hotspot.

Meski hotspot turun tajam, kejadian karhutla yang dilaporkan justru naik. Tercatat 63 kejadian dengan luas terbakar 137,27 hektare, dibandingkan 55 kejadian dan 139,81 hektare pada hari sebelumnya.

Kotawaringin Timur menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 24 kejadian seluas 14,4 hektare, atau sekitar 38 persen dari seluruh kejadian harian. Kapuas mencatat 7 kejadian dengan luas terbesar, 49,2 hektare, atau sekitar 36 persen dari total luas harian.

Kota Palangka Raya mencatat 6 kejadian seluas 21,62 hektare, Pulang Pisau 8 kejadian seluas 15,5 hektare, dan Katingan 1 kejadian seluas 10 hektare.

Seruyan mencatat 7 kejadian (7,05 hektare), Kotawaringin Barat 4 kejadian (6 hektare), Lamandau 2 kejadian (5 hektare), Gunung Mas 1 kejadian (4,5 hektare), dan Barito Selatan 3 kejadian (4 hektare).

Barito Timur, Barito Utara, Murung Raya, dan Sukamara tidak melaporkan kejadian karhutla pada hari itu.

Di lapangan, regu-regu Posko PDB melakukan 51 penanganan, seluruhnya berupa titik penanganan lanjutan tanpa titik baru. Luas lahan yang dipadamkan tercatat 3,71 hektare, naik dari 1,87 hektare dengan 49 penanganan pada laporan sebelumnya.

Luasan terbesar dicatat Regu 3 Damkar BPBPK (0,70 hektare), Regu 1 Damkar BPBPK (0,50 hektare), Posko PDB Polda Kalteng B dan Damkar Setwan Provinsi (masing-masing 0,40 hektare), serta Regu C Posko Krisis (0,38 hektare).

Laporan juga mencatat bahwa dari 28 titik CCTV pemantau di Kalimantan Tengah, hanya 10 titik yang dapat dipantau, sedangkan 18 titik lainnya kehilangan sinyal (lost signal).

Hotspot merupakan indikasi titik panas dari satelit, sehingga jumlahnya tidak selalu sama dengan jumlah kebakaran di lapangan. (HERMAWAN DP/R)