BUNTOK –

BORNEONEWS, Buntok - Warga masyarakat Barito Selatan, khususnya di Kecamatan Gunung Bintang Awai (GBA) dan Kecamatan Dusun Utara, pasrah lantaran harga karet di tingkat petani tak kunjung membaik.

Warga Desa Tamparak, kecamatan Dusun Utara, Retno (43) mengatakan,  turunnya harga karet getah ini membuat para petani merasa tak nyaman. “Kurang lebih empat tahun harga getah karet tak kunjung membaik. Saat ini harganya antara Rp5.000 hingga Rp6.000 per kilogramnya,“ kata Retno kepada Borneonews, Selasa (10/4/2018).

Keadaan tersebut lanjut dia, diperparah dengan intensitas curah hujan cukup tinggi. Sehingga kesempatan menyadap karet berkurang. Akibatnya, para petani kalang kabut membagi penghasilan supaya mencukupi kebutuhan hidup. 

Banyak kredit baik motor maupun barang lainnya macet, bahkan banyak pula kreditan sepeda motor ditarik dealer. “Untuk kebutuhan hidup kita harus kucar-kacir, apalagi ditambah banyak kredit,” keluhnya.

Apalagi, lanjutnya, harga sembako terus mengalami kenaikan. “Untuk itu, kita berharap kepada Pemerintah melalui instansi terkait agar bisa memantau harga kebutuhan pokok agar bisa mengurangi beban kita,” harap dia.

--page

Hal senada diungkapkan, Hapi Agustinus petani karet Desa Tabakanilan, anjloknya harga karet serta melambungnya harga kebutuhan pokok mencekik leher para petani.

Menurutnya, naik turunnya harga karet amat sulit diprediksi karena para petani tidak bisa melihat atau mengontrol harga karet. “Harga karet di kalangan petani amat ditentukan oleh para tengkulak. Sementara para tengkulak hanya menerima ketentuan harga karet dari pemilik pabrik atau gudang,” ucapnya.

Ia mengatakan, pihaknya hanya bisa menerima saja tanpa bisa berbuat apa-apa. Seharusnya ada sumber informasi tentang pergerakan harga komoditas pertanian khususnya harga karet sehingga para petani tidak buta informasi. (URIUTU DJAPER/B-2)