BORNEONEWS, Tamiang Layang - Rudi (39), seorang petani karet di Kabupaten Barito Timur, terduduk lesu. Perolehannya menyadap memang lumayan. Tetapi, ketika diuangkan, hasilnya membuat miris.
Sudah terlalu lama, petani karet mederita akibat harga yang anjlok drastis. Terakhir sampai anjlok hingga Rp4500. Sementara harga kebutuhan pokok terus merangkat naik, terlebih hendak menjelang bulan Ramadan seperti sekarang.
Dia mengatakan, harga jual karet yang menurun berdampak terhadap kehidupan perekonomian masyarakat.
"Semula sempat naik Rp 7.000 per kilogram, sekarang sudah turun lagi menjadi Rp 5.000 per kilogram. Ini jelas membuat petani semakin tidak berdaya,” kata Rudi, Sabtu (5/5/2018).
Kondisi harga karet yang tidak stabil ini sudah berlangsung selama beberapa tahun terakhir.
--page
Rudi mengatakan, dalam satu hari kebun miliknya mampu menghasilkan sekitar 10 kilogram karet. Jika diuangkan dengan harga Rp 5.000, perolehan sehari hanya Rp 50.000. Itupun kalau kondisi cuaca normal.
Senada dirasakan Hamdi, petani di Desa Bentot, Kecamatan Patangkep Tutui. "Kami hanya bisa bertahan dari hasil karet ini," katanya seraya berharap ada solusi dari pemerintah terkait kondisi itu. (PRASOJO EKO APRIANTO/B-11)








