Biodiesel B20 dan B30 Punya Performa Sama
Pemakaian biodiesel berbasis minyak sawit untuk kendaraan bermesin diesel terbukti tidak mengurangi performa kendaraan.
Tag
Pemakaian biodiesel berbasis minyak sawit untuk kendaraan bermesin diesel terbukti tidak mengurangi performa kendaraan.
Pemerintah mengungkapkan beberapa strategi menekan laju impor bahan bakar minyak (BBM) dan memperbaiki neraca perdagangan, salah satunya dengan memaksimalkan penggunaan energi baru terbarukan (EBT).
Program pemerintah untuk mendorong campuran biodiesel ke bahan bakar minyak (BBM) lewat kebijakan B20, B30, dan B50, berpeluang meningkatkan permintaan biodiesel dalam negeri.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyebut program biodiesel B20 akan tetap berjalan kendati perpres mobil listrik telah disahkan.
Selama 2019, implementasi penggunaan biodiesel jenis B20 telah menurunkan impor solar dibandingkan tahun lalu.
Penyerapan biodiesel dalam negeri sepanjang Januari-Juni 2019 mencapai 3,29 juta ton seiring mandatori Biodiesel 20 persen (B20).
Penerapan mandatori program biodiesel B20 memiliki beberapa dampak positif bagi Indonesia. Selain ampuh untuk mengurangi tumpukan stok minyak sawit, juga dapat menahan penurunan harga komoditas andalan ekspor ini.
Indonesia memasuki babak baru dalam penggunaan bahan bakar biodiesel dengan campuran 30 persen minyak sawit.
Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis besaran Harga Indeks Pasar (HIP) Bahan Bakar Nabati (BBN) yang meliputi turunnya biodiesel dan naiknya harga bioetanol.
Mandatori biodiesel B20 dinilai efektif menyeimbangkan pasokan dan permintaan minyak sawit di dalam negeri.
Program biofuel atau biodiesel berbasis minyak sawit dinilai efektif untuk meningkatkan penyerapan pasar, sehingga mengurangi penumpukan stok.
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI) menyatakan, perluasan mandatori biodiesel 20% (B20) kepada non-PSO sejak diberlakukan September 2018, mulai menunjukkan hasil positif berupa meningkatnya serapan minyak sawit (CPO) di dalam negeri untuk biodiesel sawit.
Sebagai penghasil minyak sawit (CPO) terbesar dunia, Indonesia berpotensi menjadi produsen bioenergi berbasis minyak sawit utama di dunia. Dengan begitu, produksi minyak sawit yang melimpah tak akan memicu penumpukan stok, yang menyebabkan harga rendah.
Dayak Oil Palm Planters Association (Doppa) atau organisasi petani sawit Dayak di kawasan Sarawak, Malaysia, mendesak pemerintah Prancis untuk mengkaji kembali keputusan untuk menghapuskan minyak sawit sebagai bahan baku pembuatan biofuel.
Indonesia berpeluang mengembangkan minyak sawit sebagai bahan baku untuk bioenergi dan didukung melimpahnya pasokan minyak sawit.
Hilirisasi biofuel terus dilakukan pemerintah dengan menerapkan program biodiesel 20% (B20) secara penuh di Indonesia, dan memperluas penggunaan B20 di semua kendaraan bermotor.
Kebijakan moratorium atau penghentian sementara penanaman kelapa sawit menjadi disinsentif bagi industri kelapa sawit dan kontradiktif dengan kebijakan perluasan penggunaan biodiesel 20% (B20).
Emiten perkebunan PT Tunas Baru Lampung Tbk. (TBLA) memacu penjualan biodiesel sejumlah 96.000 kilo liter sampai akhir tahun ini dengan estimasi nilai Rp700,8 miliar.
Kebijakan pencampuran minyak sawit 20% ke bahan bakar minyak (BBM) solar atau biodiesel 20% (B20) sejauh ini tidak berjalan sesuai harapan. Apa pemicunya?
Ada berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk mendongkrak harga minyak sawit mentah (CPO), seperti menggenjot ekspor untuk mengikis stok yang melimpah dan juga menerapkan kebijakan mandatori program biodiesel B20.