Tabrakan Kelotok di Tanjung Api Api Menimbulkan Kesedihan Mendalam Keluarga Korban
Pascamenerima kabar tersebut, Muchtar langsung berangkat ke Kumai menggunakan kelotok untuk mengetahui kondisi anak dan cucunya.
Tag
Pascamenerima kabar tersebut, Muchtar langsung berangkat ke Kumai menggunakan kelotok untuk mengetahui kondisi anak dan cucunya.
Dengan mata berkaca-kaca menahan kesedihan mendalam, Silvia (35 tahun) korban peristiwa kecelakaan kelotok, menceritakan hingga hari kedua pencarian anak laki-lakinya yang berusia 18 bulan masih belum ditemukan.
Proses pencarian korban tabrakan kelotok di Tanjung Api Api, Sungai Kumai, Kecamatan Kumai, Kabupaten Kotawaringin Barat, memasuki hari kedua.
Berdasarkan hasil pemeriksaan awal, kelotok yang digunakan oleh dua nahkoda tersebut perlengkapan pendukungnya seperti lampu penerang dan lain-lain tidak lengkap.
Saat ini tali pengikat kelotok bermuatan material yang tenggelam akibat tabrakan tersebut sudah ditemukan.
Berdasarkan data terakhir sekitar pukul 12.00 WIB tim gabungan sudah menyiapkan alat selam guna mencari keberadan dua korban anak-anak yang masih hilang yaitu Suman Zaidan Fahrezi (2,6 tahun) warga Jalan Keramat RT 12 Kelurahan Kumai Hilir Kecamatan Kumai dan Raihan (1,2 tahun).
Dalam peristiwa itu tidak ada korban jiwa. Semua penumpang yang berjumlah sebanyak 77 orang dan 35 nahkoda selamat. Hanya saja KM Kirana III mengalami kerusakan di bagian curuk haluan (Fore Peak) hingga lumbung atas sebelah kiri.
Kecelakaan laut yang melibatkan KM Kirana III dan sebuah tongkang TB Buana Pela 3, disebabkan cuaca buruk.
Kecelakaan laut terjadi di muara jalur masuk perairan Sungai Mentaya, Sampit. KM Kirana III menabrak sebuah tongkang TB Buana Pela 3 yang mengangkut crude palm oil (CPO) tujuan Gresik, Jawa Timur.
Kapolsek Kapuas Barat, Iptu Arif Miftahul Huda mengatakan, kejadian tersebut berawal saat Husni berniat menaiki feri yang sudah akan berangkat. Sehingga, dia pun terburu-buru.
Penyelidikan terhadap kasus hanyutnya tongkang Terang 301 di Sungai Mentaya, Kabupaten Kotawaringin Timur pada Jumat (10/8/2018) dini hari, dihentikan.
BORNEONEWS, Sampit - Anggota Komisi IV DPRD Kotawaringin Timur Hary Rahmad Panca Setia menegaskan akan memantau penyelesaian kasus penabrakan bangunan warga oleh tongkang bermuatan pasir. Bahkan ia…
Untuk alur pelayaran di Kotim ini belum ada zonasi. Rencananya, KSOP akan ke kantor pusat untuk mempertegas soal kegiatan berlabuh itu.
Apabila nantinya ditindaklanjuti, tidak menutup kemungkinan kasus tersebut akan berproses hingga Mahkamah Pelayaran. Sanksinya akan diberikan secara tertulis.
Perlunya dibentuk tim investigasi ini agar kejadian serupa tidak terulang ladi di Kotim
dari penuturan warga tongkang itu merupakan pengangkut pasir galian C sungai dari daerah perairan dalam Kotim. Pasir itu dikeruk di alur sungai daerah Rasau Tumbuh, Kecamatan Kota Besi. Pasir hasil galian C itu diangkut untuk dijual ke luar daerah.
Legislator memercayakan kepada pihak angkutan dan korban. Apabila memang tidak ada itikad baik untuk penyelesaian, legislator akan kembali turun tangan.
Kejadian tabrakan kelotok dan tongkang pasir ini mengakibatkan seorang bocah tewas karena tenggelam di Sungai Barito
Dalam peristiwa itu, satu orang mengalami luka parah, dan seorang bocah berusia enam tahun hilang di sungai.
Insiden tongkang yang menabrak lanting hingga perahu warga di daerah aliran sungai Mentaya, Kecamatan MB Ketapang, Kabupaten Kotim mendapat sorotan dari kalangan legislator di DPRD Kotim.