JAKARTA –

BORNEONEWS, Kulon Progo – Di sudut Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, aktivitas para perajin tahu tetap berjalan sejak pagi hari. Suara mesin penggilingan kedelai menjadi penanda dimulainya proses produksi yang telah menjadi bagian dari denyut ekonomi warga setempat.

Namun di balik rutinitas itu, para perajin kini menghadapi tantangan berat akibat kenaikan harga kedelai yang menembus sekitar Rp10.700 hingga Rp11.000 per kilogram. Kondisi tersebut turut diperparah oleh naiknya biaya produksi lain seperti minyak goreng dan bahan bakar kayu.

Bagi para pelaku usaha kecil ini, kenaikan harga bukan sekadar angka, melainkan tekanan nyata terhadap keberlangsungan usaha yang telah mereka jalani bertahun-tahun.

Afi, salah satu perajin tahu di Tuksono, mengaku tetap berupaya bertahan di tengah kondisi yang tidak mudah. Ia menilai tantangan terbesar saat ini bukan hanya pada harga bahan baku, tetapi juga persaingan pasar yang semakin ketat.

“Sekarang yang penting bertahan, usaha tetap jalan,” ujarnya, Minggu, 31 Mei 2026.

Ketua kelompok perajin Tahu Nunggal Roso, Mubari, mengatakan kenaikan harga kedelai membuat para perajin berada dalam posisi serba sulit. Di satu sisi, menaikkan harga jual berisiko kehilangan pelanggan, sementara mempertahankan harga justru menekan keuntungan.

Dalam kondisi tersebut, para perajin memilih melakukan berbagai penyesuaian agar usaha tetap berjalan. Salah satunya dengan mengurangi sedikit ketebalan tahu serta memaksimalkan seluruh bahan baku agar tidak ada yang terbuang.

Selain itu, limbah produksi seperti ampas tahu juga diolah kembali menjadi pakan ternak atau tempe gembus, sehingga masih memiliki nilai ekonomi tambahan.

Di sisi lain, pemerintah daerah melalui Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kulon Progo terus berupaya memberikan dukungan. Salah satunya melalui skema business matching dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyerap produk tahu dari para perajin.

Program ini diharapkan dapat memperluas pasar sekaligus menjaga keberlangsungan usaha para pelaku UMKM di tengah tekanan biaya produksi.

Selain itu, pemerintah juga membantu promosi produk serta memberikan pelatihan pemasaran digital agar para perajin mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, disebut turut memperhatikan kondisi ini dan berkomitmen untuk mencari solusi kebijakan yang dapat meringankan beban para pelaku usaha kecil.

Meski menghadapi berbagai tantangan, para perajin tahu di Tuksono tetap melanjutkan aktivitas produksi mereka. Bagi mereka, usaha ini bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga tradisi dan keberlangsungan hidup keluarga.

Di tengah tekanan ekonomi, dapur-dapur produksi itu tetap mengepul, menjadi simbol keteguhan para perajin yang memilih bertahan daripada menyerah.

ANTARA