BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) terus meluas. Kondisi tersebut menyebabkan kabut asap kian menebal di sejumlah wilayah.
Melihat kondisi ini, Wakil Ketua II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kobar Sri Lestari kembali mengimbau masyarakat, untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan, baik untuk membuka lahan perkebunan maupun keperluan lainnya.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan. Terlebih, kondisi cuaca yang terik dan kering saat ini membuat api kecil sekalipun berpotensi memicu kebakaran.
"Kita tahu bahwa petugas penanganan Karhutla ini terbatas. Namun titik api baru terus bertambah. Maka, tidak lain adalah imbauan harus terus digerakkan kepada masyarakat," ujar Sri Lestari, Jumat, 21 Agustus 2026.
Menurutnya, upaya penanganan Karhutla tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas di lapangan. Peran serta masyarakat sangat penting untuk mencegah munculnya titik api baru.
"Karena kondisi terik saat ini, api kecil seperti puntung rokok saja bisa mengakibatkan kebakaran lahan," tegasnya.
Berdasarkan data rekapitulasi BPBD Kobar, sejak Juli hingga 20 Agustus 2026 telah terjadi sebanyak 204 kejadian Karhutla. Artinya, dalam periode tersebut rata-rata terjadi sekitar tiga hingga empat kejadian Karhutla setiap hari.
Memasuki Juli dan Agustus, intensitas kebakaran mengalami peningkatan cukup tajam. Pada Juli tercatat sebanyak 62 kejadian, sedangkan hingga 20 Agustus 2026 jumlah kejadian Karhutla pada Agustus telah mencapai 94 kejadian.
Lonjakan juga terlihat dari jumlah titik panas. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, total hotspot di Kobar mencapai 527 titik. Sebanyak 400 titik di antaranya terdeteksi pada Agustus hingga pembaruan data 20 Agustus pukul 07.00 WIB.
Arut Selatan menjadi kecamatan dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 283 titik. Kemudian Kumai 131 titik, Arut Utara 65 titik, Kotawaringin Lama 36 titik dan Pangkalan Banteng 12 titik. Sementara Kecamatan Pangkalan Lada tidak tercatat memiliki hotspot dalam rekap tersebut.
Untuk kejadian Karhutla, Arut Selatan juga mencatat angka tertinggi dengan 111 kejadian, disusul Kumai sebanyak 65 kejadian. Selanjutnya Pangkalan Banteng 10 kejadian, Kotawaringin Lama 8 kejadian, Pangkalan Lada 6 kejadian dan Arut Utara 4 kejadian.
Dampak kebakaran juga tercermin dari luas lahan yang terbakar. Total luasan Karhutla di Kobar mencapai 867,49 hektare. Kecamatan Kumai menjadi wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar, yakni 588,41 hektare, disusul Arut Selatan dengan 184,475 hektare.
DPRD Kobar berharap masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan bersama-sama mencegah terjadinya kebakaran. Terlebih, penanganan di lapangan akan semakin berat apabila titik api terus bermunculan.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu Karhutla, sehingga dapat ditangani sedini mungkin sebelum api meluas. (DANANG/J)









