PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Di balik pelaksanaan Sensus Ekonomi 2026 atau SE2026, petugas tidak hanya menemukan angka dan data aktivitas ekonomi masyarakat. Di wilayah terpencil, mereka juga menyaksikan langsung perjuangan warga mempertahankan kehidupan dengan mata pencaharian sederhana.

Salah satunya dialami Devi Nadiah, petugas SE2026 yang melakukan pendataan di RT 8 Desa Jabiren, Kabupaten Pulang Pisau. Di lokasi tersebut, ia menemui ada dua orang lansia dari hanya beberapa kepala keluarga yang tetap bertahan di daerah tersebut. Salah satu lansia adalah seorang perempuan, satunya lagi seorang warga lanjut usia yang hingga kini masih bekerja sebagai penyadap karet.

Kisah lansia tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Devi. Di usia senja, pria tersebut masih mengandalkan hasil menyadap karet untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

“Bapak itu usahanya hanya menyadap karet,” cerita Devi kepada Borneonews pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Namun, perjuangan lansia tersebut tidak berhenti ketika hasil sadapan karet terkumpul. Untuk menjual hasil kebunnya, ia harus menyeberangi sungai menuju wilayah desa.

Yang membuat Devi semakin terenyuh, lansia tersebut tidak memiliki perahu bermesin. Ia hanya menggunakan perahu dayung untuk menempuh perjalanan menyeberangi sungai.

“Kalau mau menjual hasil kebunnya, bapaknya harus menyeberang ke desa. Bapaknya hanya menggunakan perahu dayung karena tidak ada mesin Alkon, jadi terpaksa mendayung,” ujarnya.

Bagi Devi, perjalanan yang harus ditempuh warga tersebut bukanlah jarak yang dekat. Ia sendiri membutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk menyeberang menggunakan Alkon ketika melakukan pendataan ke RT 8.

Karena itu, ia merasa kagum sekaligus prihatin melihat lansia tersebut masih kuat mendayung perahu untuk menjual hasil kebunnya.

“Jaraknya menurut saya cukup jauh dari Desa Jabiren menuju seberang maupun sebaliknya. Tapi bapaknya kuat, atau dikuat-kuatkan. Karena saya dengar dulu Bapak ini punya mesin Alkon namun suatu kondisi membuatnya karam di sungai. Sejak saat itu dia hanya menggunakan perahu dayung,” katanya.

Pertemuan tersebut membuat Devi melihat sisi lain dari kehidupan masyarakat di pelosok. Di tengah keterbatasan akses transportasi dan fasilitas, warga tetap berusaha mempertahankan mata pencaharian yang dimiliki.

Menurut Devi, pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang tidak mudah dilupakan selama menjalankan tugas SE2026. Ia berharap warga lanjut usia yang masih tinggal di kawasan tersebut selalu diberikan kesehatan.

“Sedih sebenarnya melihat lansia-lansia yang ada di sana. Semoga mereka sehat selalu,” tuturnya.

Kisah tersebut menjadi potret bahwa di balik data ekonomi yang dikumpulkan melalui SE2026, terdapat perjuangan warga di pelosok Kalimantan Tengah dalam mempertahankan kehidupan. Bagi sebagian masyarakat, aktivitas ekonomi bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang perjalanan panjang dan perjuangan untuk menjual hasil kerja mereka. (TESTI PRISCILLA/J)