PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat bersama masyarakat Dayak di Desa Riam dan sekitarnya, Kecamatan Arut Utara menggelar ritual menuba adat di Hulu Sungai Arut, Senin, 24 Agustus 2026.

Ritual menuba merupakan tradisi masyarakat setempat menggunakan getah dari akar pohon tuba untuk meracun ikan.

Namun dalam kegiatan tersebut, tradisi adat itu juga menjadi bagian dari ikhtiar dan doa bersama agar hujan segera turun di tengah kondisi kekeringan yang melanda Kobar.

Penubaan dimulai pukul 04.30 WIB di lokasi ritual adat yaitu di Riam Pemali. Sedangkan sehari sebelumnya yaitu Minggu, 23 Agustus 2026 digelar persiapan ritual diantaranya pengumpulan dan penumbukan bahan tuba.

Bupati Kobar Nurhidayah hadir dalam kegiatan tersebut didampingi Wakil Bupati Suyanto serta sejumlah kepala satuan organisasi perangkat daerah (SOPD).

Kegiatan juga diikuti masyarakat Desa Riam dan sejumlah desa di sekitarnya, termasuk masyarakat dari wilayah Kabupaten Lamandau.

Nurhidayah mengatakan, ritual tersebut tidak hanya menjadi bagian dari upaya melestarikan kearifan lokal dan budaya masyarakat Dayak, tetapi juga menjadi ikhtiar bersama untuk memohon turunnya hujan.

“Kegiatan ini ikhtiar bersama sebagai salah satu hajat, juga mengangkat kearifan lokal dan budaya. Kita memiliki satu tujuan dan keinginan bersama,” jelasnya.

Ritual tersebut digelar di tengah kondisi kemarau yang telah menimbulkan berbagai dampak, mulai dari kekeringan hingga meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.

“Dalam kondisi keprihatinan kemarau yang menyebabkan karhutla, bahkan kekeringan di beberapa daerah,” jelasnya.

Bupati berharap doa dan niat masyarakat yang disampaikan melalui ritual adat tersebut dapat dikabulkan sehingga hujan segera turun dan kondisi kekeringan dapat berakhir.

“Semoga niat doa, melalui para leluhur melalui ritual ini bisa berjalan sesuai keinginan. Kita tetap berusaha sebagai manusia,” jelasnya.

Selain sebagai bentuk permohonan agar hujan segera turun, pelaksanaan ritual menuba juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk menjaga dan melestarikan tradisi serta kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. (WAHYU KRIDA/R)