BUNTOK –

BORNEONEWS, Buntok – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Barito Selatan mencatat sebanyak 2.037 titik panas terdeteksi sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.938 titik panas muncul hanya selama Agustus.

Kepala BPBD Barito Selatan Agus In'yulius mengatakan, titik panas tersebut tersebar di enam kecamatan.

“Jumlah hotspot tersebut tersebar di enam kecamatan di daerah ini,” kata Agus di Buntok, Selasa 1 September 2026.

Kecamatan Dusun Hilir menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak mencapai 877 titik. Disusul Dusun Selatan 478 titik, Jenamas 357 titik, Dusun Utara 121 titik, Gunung Bintang Awai 108 titik dan Karau Kuala 96 titik.

Selain tingginya jumlah titik panas, BPBD juga mencatat total lahan terbakar selama Januari-Agustus 2026 mencapai 514,86 hektare. Dari luasan tersebut, sebanyak 452,41 hektare terbakar pada Agustus.

Berdasarkan jumlah kejadian karhutla, Kecamatan Dusun Selatan mencatat angka tertinggi dengan 63 kejadian dan luas lahan terbakar 245,08 hektare.

Kemudian Karau Kuala mencatat 18 kejadian dengan luas 50,86 hektare, Jenamas 14 kejadian seluas 27,50 hektare, Dusun Hilir sembilan kejadian seluas 147,92 hektare, Dusun Utara tujuh kejadian seluas 36 hektare serta Gunung Bintang Awai dua kejadian dengan luas 7,50 hektare.

Secara keseluruhan, berdasarkan rincian BPBD tersebut terdapat 113 kejadian karhutla sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Kebakaran dengan luasan terbesar terjadi di Desa Batampang, Kecamatan Dusun Hilir, pada 23 Agustus 2026. Luas lahan yang terbakar dalam kejadian tersebut mencapai sekitar 100 hektare.

Menghadapi kondisi itu, BPBD Barito Selatan memperkuat penanganan bersama TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP), Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL), Masyarakat Peduli Api (MPA), Dinas Kesehatan, pemadam kebakaran serta unsur terkait lainnya.

“Jadi kita bergerak secara bersama-sama. Seluruh tim, Polri, BPBD, KPHP, KPHL dan semua unsur yang terkait, termasuk kesehatan, semuanya terlibat,” ujarnya.

Penanganan difokuskan pada sejumlah kawasan rawan, di antaranya jalur Desa Madara hingga Kalahien serta kawasan Pamangka, Kecamatan Dusun Selatan, hingga Desa Rampa Mea di Kecamatan Dusun Utara.

“Seluruh unsur dibagi tugas untuk melakukan pemadaman sekaligus pendinginan dengan menggunakan peralatan yang tersedia, baik dari damkar maupun instansi lainnya,” kata Agus.

Barito Selatan saat itu telah berada dalam status tanggap darurat karhutla selama sekitar 25 hari. Sebelumnya, daerah tersebut menjalani masa siaga sekitar 17 hari.