JAKARTA –

BORNEONEWS, Pontianak – Art Borneo 2026 menghadirkan ruang refleksi terhadap persoalan ekologi melalui karya seni dengan mempertemukan seniman dan komunitas dari Indonesia, Malaysia serta Brunei Darussalam.

Kurator Art Borneo 2026 M Faozi Yunanda mengatakan kegiatan tersebut hadir di tengah berbagai persoalan lingkungan yang dihadapi masyarakat Kalimantan Barat, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, kabut asap hingga perubahan bentang alam yang menekan ekosistem.

“Art Borneo 2026 hadir ketika masyarakat Kalimantan Barat menghadapi berbagai persoalan lingkungan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan, kabut asap hingga perubahan bentang alam yang memberikan tekanan terhadap ekosistem,” kata Faozi di Pontianak, Minggu, 6 September 2026.

Menurutnya, persoalan ekologi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia, ingatan kolektif masyarakat serta identitas yang terbentuk dari hubungan dengan ruang hidup.

Art Borneo 2026 mengusung tema “Ekologi Sosial, Memori, dan Identitas” dengan tajuk “Khalayak: Arketipal Primordial”.

Tema tersebut mengajak masyarakat melihat kembali hubungan manusia dengan lingkungan, pengalaman, ingatan serta kebudayaan yang berkembang di kawasan Borneo.

“Ketika kita berbicara tentang ekologi, kita sebenarnya juga sedang berbicara tentang manusia, tentang bagaimana sebuah masyarakat mengingat ruang hidupnya dan bagaimana identitas terbentuk dari hubungan tersebut,” ujarnya.

Faozi menilai kerusakan ekologis tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga berpotensi mengikis pengetahuan, ingatan serta nilai-nilai yang diwariskan masyarakat dari generasi ke generasi.

Melalui tajuk tersebut, Art Borneo menelusuri kembali hubungan masyarakat dengan tanah, air, hutan, leluhur dan ruang sosial yang menjadi bagian penting dari kebudayaan Borneo.

Rangkaian Art Borneo 2026 diawali program inkubasi daring pada 23–31 Juli 2026.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan program residensi di Kabupaten Sanggau, Sintang dan Kapuas Hulu pada 8–20 Agustus 2026.

Program tersebut mempertemukan seniman dari berbagai daerah di Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam untuk melakukan riset, bertukar pengalaman serta berinteraksi dengan masyarakat dan pengetahuan lokal.

Direktur Art Borneo Annisa Fitri Yusuf menegaskan kegiatan tersebut bukan hanya menjadi perayaan seni, tetapi juga ruang untuk melihat kembali persoalan lingkungan sebagai tantangan bersama masyarakat Borneo.

“Kita berada di tengah kondisi ekologis yang secara langsung maupun tidak langsung kita rasakan bersama. Karena itu, pameran ini menjadi ruang untuk berhenti sejenak, mengingat, dan saling menguatkan,” ujarnya.

Art Borneo 2026 diselenggarakan Kolektif Emehdeyeh dengan dukungan Kementerian Kebudayaan RI, Festival Lestari serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Barat.

Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperkuat jejaring seniman lintas wilayah, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai persoalan sosial dan ekologis yang dihadapi masyarakat Borneo.

ANTARA