SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya mengancam permukiman dan kualitas udara, tetapi juga habitat serta keselamatan satwa liar, termasuk satwa yang dilindungi.

Sejumlah satwa dilaporkan terdampak karhutla di beberapa wilayah Kotim. Temuan tersebut mulai dari orangutan yang dievakuasi dalam kondisi selamat, trenggiling yang ditemukan mati terbakar, hingga kukang yang diduga tersengat listrik setelah keluar dari habitatnya akibat kebakaran.

Dua individu orangutan, Raya dan Rayu, sebelumnya ditemukan di kawasan Jalan Sawit Raya, Hutan Kota Sampit. Keduanya kemudian dievakuasi dan telah dilepasliarkan ke Suaka Margasatwa Lamandau.

Selain orangutan, satu individu trenggiling berhasil diselamatkan aktivis lingkungan di kawasan Jalan Bumi Raya 1. Satwa tersebut kemudian diserahkan kepada BKSDA Pos Sampit selanjutnya dilepasliarkan.

Sementara itu, aktivis lingkungan yang melakukan penelusuran di wilayah Desa Terantang Hilir, Kecamatan Seranau, menemukan sejumlah satwa yang diduga terdampak kebakaran. Di antaranya pelanduk, rusa, burung raja udang, tiga ekor trenggiling, kucing hutan, dan lutung abu-abu. Sejumlah satwa tersebut dilaporkan ditemukan dalam kondisi hangus terbakar di area yang terdampak karhutla.

Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah mengatakan wilayah Terantang Hilir yang menjadi area penelusuran aktivis lingkungan tersebut merupakan salah satu kawasan yang memiliki habitat satwa liar. Di Kecamatan Seranau terdapat kawasan restorasi ekosistem yang dikelola PT Rimba Makmur Utama (RMU), sedangkan di luar kawasan tersebut terdapat areal kebun masyarakat yang juga terdampak kebakaran.

"Khusus di Kecamatan Seranau, di situ ada satu perusahaan RE (Restorasi Ekosistem), dan di situ memang habitat satwa liar. Di luar wilayah RE itu merupakan areal kebun masyarakat. Dan di lokasi kebun masyarakat tadi yang banyak ditemukan kebakaran hutan dan lahan. Di areal tadi memang merupakan, khususnya yang di wilayah RE, PT Rimba Makmur Utama, itu merupakan habitat orangutan, dan bukan cuma orangutan, satwa liar khususnya jenis satwa liar yang dilindungi," kata Muriansyah, Selasa, 22 September 2026.

Menurut dia, ancaman terhadap satwa liar akibat karhutla tidak hanya terjadi di Terantang Hilir. Wilayah lain yang mengalami kebakaran juga berpotensi menjadi lokasi terdampaknya satwa karena hewan-hewan tersebut kehilangan tempat berlindung dan mencari sumber makanan.

"Bukan hanya di Terantang, di tempat-tempat lain pun khususnya misalkan kayak di Kota Besi itu yang saat ini kejadian di Kandan ada jenis orangutan, kucing hutan, trenggiling. Tapi hampir semua tempat kebakaran mengancam satwa liar, khususnya satwa liar yang dilindungi. Jadi bukan cuma di yang di Terantang," ujarnya.

Muriansyah menyebut kawasan Baamang Barat hingga jalur lingkar luar juga menjadi wilayah yang perlu diwaspadai. Satwa seperti trenggiling dan kucing hutan dapat berada di kawasan yang tidak selalu berupa hutan lebat.

"Belum lagi Mentaya Hilir Utara dan Mentaya Hilir Selatan itu sama ada dilaporkan orangutan dan beruang," katanya.

Ia menjelaskan, keberadaan satwa liar tidak selalu terbatas pada kawasan yang secara umum disebut hutan. Semak belukar, kebun masyarakat, maupun kawasan terbuka lainnya juga dapat menjadi tempat satwa mencari makan dan berlindung.

"Jadi bukan cuma di hutan yang kita fokus. Di sema belukar pun saat ini satwa liar ada di situ," tutur Muriansyah.

Ia mencontohkan kawasan Lingkar Utara dan Lingkar Selatan yang bukan merupakan kawasan hutan, tetapi tetap ditemukan berbagai jenis satwa.

"Contoh di Lingkar Utara, Lingkar Selatan itu bukan hutan tapi ternyata di situ ada trenggiling, kucing hutan, ular dan banyak lagi," bebernya. 

Ancaman karhutla terhadap satwa juga terlihat dari laporan terbaru mengenai kukang di Kecamatan Kota Besi. Satwa tersebut diduga keluar dari habitatnya untuk menghindari kawasan yang terdampak kebakaran, tetapi kemudian mengalami sengatan listrik.

Kukang tersebut saat ini diamankan oleh aktivis lingkungan dan rencananya akan diserahterimakan kepada BKSDA Pos Sampit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Muriansyah mengatakan BKSDA Pos Sampit saat ini banyak menerima bantuan dari aktivis/komunitas maupun tim Satgas Karhutla dalam penanganan satwa yang terdampak kebakaran.

"Saat ini kami banyak menerima bantuan, baik dari kawan-kawan komunitas, juga dari pihak regu atau tim Satgas Karhutla yang bertugas di Kabupaten Kotawaringin Timur," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)