JAKARTA –

BORNEONEWS, Nagoya - Suasana ramai langsung terasa saat memasuki Osu Shopping District, salah satu kawasan belanja populer di Kota Nagoya, Prefektur Aichi, Jepang.

Orang-orang berlalu-lalang membawa kantong belanja. Sebagian lainnya tampak mengantre di depan kedai makanan dan minuman yang tersebar di sepanjang kawasan tersebut.

Pada masa libur Silver Week, kawasan Osu menjadi salah satu tujuan warga dan wisatawan untuk menghabiskan waktu. Deretan toko yang berdiri di kanan dan kiri jalan menawarkan beragam pilihan, mulai dari pakaian, aksesori, elektronik hingga kuliner.

Memasuki kawasan melalui gerbang besar yang menyerupai gerbang kuil, pengunjung akan menemukan wajah Osu yang terus berubah di setiap sudut.

Ada toko sepatu, barang bekas, gim hingga berbagai produk budaya populer Jepang. Semakin jauh berjalan, semakin terasa bahwa Osu bukan sekadar pusat perbelanjaan biasa.

Jika dibandingkan dengan kawasan di Indonesia, suasana awal Osu sekilas mengingatkan pada Pasar Baru, Jakarta. Namun ketika memasuki area kuliner dan tempat berkumpul anak muda, atmosfernya juga terasa menyerupai kawasan Blok M.

Bedanya, identitas Jepang tetap sangat kuat.

Kawasan Osu dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan besar di Nagoya. Sekitar 1.200 toko, restoran dan berbagai jenis usaha tersebar di kawasan tersebut.

Sementara area arkade perbelanjaannya terdiri dari delapan ruas jalan dengan ratusan toko yang dapat dijelajahi pengunjung.

Keragaman itu membuat Osu dikunjungi masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang.

Antrean Kuliner di Tengah Keramaian

Salah satu pemandangan yang mudah ditemukan di Osu adalah antrean panjang di depan sejumlah gerai makanan.

Pengunjung rela berdiri cukup lama untuk mendapatkan makanan atau minuman yang tengah populer.

Salah satu minuman yang dicoba saat menyusuri kawasan tersebut adalah lemonade seharga 680 yen atau sekitar Rp77 ribu.

Dari sisi rasa, minuman itu tidak jauh berbeda dengan lemonade pada umumnya. Namun harga tersebut relatif lebih tinggi dibandingkan sejumlah minuman populer di Jakarta.

Di tengah tingginya aktivitas perdagangan, hal lain yang cukup menarik perhatian adalah kebersihan kawasan.

Meski dipenuhi pengunjung, jalan dan area pertokoan tetap terlihat tertata.

Tempat sampah juga tidak mudah ditemukan di sepanjang jalur yang dilalui. Pengunjung pun terbiasa menyimpan sampah terlebih dahulu hingga menemukan lokasi pembuangan yang tersedia.

Kebiasaan sederhana tersebut membuat kawasan yang ramai tetap terasa bersih.

Surga bagi Penggemar Anime

Osu juga menawarkan daya tarik tersendiri bagi pencinta anime, manga, gim dan budaya pop Jepang.

Semakin jauh memasuki kawasan, pengunjung dapat menemukan toko-toko yang menjual action figure hingga berbagai barang koleksi.

Salah satu di antaranya adalah Mandarake, toko yang dikenal menawarkan berbagai barang koleksi bekas.

Bagi penggemar anime, tempat tersebut bisa menjadi salah satu tujuan menarik untuk berburu figur karakter.

Harga barang yang ditawarkan cukup beragam.

Action figure Luffy dari One Piece, misalnya, dapat ditemukan dengan harga mulai sekitar 1.500 yen atau setara Rp170 ribu.

Untuk kolektor yang memiliki anggaran lebih besar, tersedia pula barang yang dibanderol hingga sekitar 22.000 yen atau Rp2,5 juta.

Salah satunya replika Going Merry, kapal yang digunakan Luffy dan kru Topi Jerami dalam serial One Piece.

Kehadiran toko elektronik, anime, manga dan gim membuat Osu kerap dikenal sebagai salah satu kawasan subkultur di Nagoya.

Tradisi Bertemu Pusat Perdagangan

Di tengah hiruk-pikuk pertokoan berdiri Osu Kannon Temple yang menjadi bagian penting dari sejarah kawasan tersebut.

Keberadaan kuil menciptakan suasana berbeda. Aktivitas berdoa berlangsung berdampingan dengan kegiatan belanja dan kuliner hanya beberapa langkah dari kawasan komersial.

Osu Kannon Temple dipindahkan dari Osu Village di Provinsi Mino ke lokasi saat ini pada masa Shogun Tokugawa Ieyasu pada 1612.

Kehadirannya sekaligus menunjukkan bahwa Osu tidak hanya tumbuh sebagai kawasan perdagangan.

Sepanjang tahun, berbagai kegiatan juga digelar di kawasan ini, mulai dari festival musim panas, pertunjukan jalanan hingga kegiatan cosplay.

Pasar barang antik juga rutin hadir di sekitar Osu Kannon setiap tanggal 18 dan 28.

Aktivitas tersebut membuat kehidupan di Osu tidak hanya berpusat di dalam toko, tetapi juga di ruang publik serta kawasan bersejarah.

Kebab dan Saus dari Indonesia

Bagi wisatawan muslim, pilihan makanan halal sering menjadi pertimbangan saat bepergian di Jepang.

Di Osu, terdapat sejumlah pilihan makanan dari berbagai negara, termasuk kebab.

Di salah satu kedai kebab, warga Indonesia yang tinggal di Tokyo, Sarif Hidayat, terlihat menikmati makan siang bersama istrinya.

Sarif datang ke Aichi untuk menyaksikan pertandingan bulu tangkis Asian Games.

Setelah berkeliling, dia mengaku cukup kesulitan mendapatkan makanan halal di sekitar kawasan. Kebab kemudian menjadi pilihannya sebelum kembali ke Tokyo.

Namun ada pemandangan yang cukup mengejutkan di meja kedai tersebut.

Di antara berbagai perlengkapan makan, terlihat sebotol Saos Belibis yang sangat familiar bagi masyarakat Indonesia.

Kejutan lainnya datang dari pemilik kedai yang mampu menyapa menggunakan bahasa Indonesia.

"Dari mana?" katanya ketika melihat pengunjung asal Indonesia.

Sapaan sederhana itu memberikan nuansa akrab di tengah perjalanan di Nagoya.

Potret Kehidupan Nagoya

Osu Shopping District pada akhirnya menawarkan pengalaman yang jauh lebih luas daripada sekadar berbelanja.

Dalam satu kawasan, pengunjung bisa menemukan butik pakaian, toko elektronik, barang bekas, anime, gim, kuliner hingga tempat bersejarah.

Tren fesyen terbaru berdampingan dengan pakaian retro. Kuliner Jepang berada tidak jauh dari makanan berbagai negara. Sementara budaya pop berkembang bersebelahan dengan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Bagi wisatawan dari luar Jepang, termasuk Indonesia, Osu memberikan gambaran mengenai kehidupan perkotaan Nagoya yang tidak hanya bertumpu pada pusat perbelanjaan modern.

Kawasan tersebut menjadi ruang pertemuan antara perdagangan, budaya, kuliner, tradisi dan keseharian masyarakat.

Setelah menikmati lemonade, menyusuri pertokoan, melihat koleksi anime hingga menemukan saus khas Indonesia di kedai kebab, perjalanan singkat di Osu pun berakhir.

Dari pusat perbelanjaan tersebut, perjalanan kembali dilanjutkan menuju agenda utama di Aichi, yakni peliputan Asian Games.

Namun Osu telah meninggalkan gambaran tersendiri tentang Nagoya, kota yang ramai dan beragam, tetapi tetap terasa tertata.

ANTARA