PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Kepala SMPIT Tiara Az-Zahra Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Jesiati, mendorong penguatan kompetensi guru agar mampu mengikuti perkembangan pembelajaran di era digital. Salah satunya dilakukan melalui kolaborasi dengan Universitas Palangka Raya (UPR) dalam pelatihan pengembangan media pembelajaran interaktif.

Pelatihan yang digelar Sabtu, 26 September 2026 tersebut mengangkat tema “Transformasi Pembelajaran Abad 21: Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Interaktif Menggunakan Berbagai Platform Digital pada Konten Sains.”

Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para guru untuk meningkatkan keterampilan dalam memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari proses pembelajaran. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengikuti praktik secara langsung untuk membuat media pembelajaran interaktif.

Menurut Jesiati, kemampuan guru dalam beradaptasi dengan perkembangan teknologi menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Karena itu, guru perlu memiliki kemauan untuk terus belajar dan mencoba berbagai pendekatan baru.

“Bagi kami, transformasi pembelajaran harus dimulai dari guru yang terus mau belajar dan berkembang. Teknologi bukan sekadar alat, tetapi bagaimana guru mampu menggunakannya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik,” ujarnya kepada Borneonews pada Minggu, 27 September 2026.

Ia mengatakan perkembangan teknologi memberikan banyak peluang bagi guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif. Namun, pemanfaatan teknologi tetap harus ditempatkan sesuai tujuan pembelajaran dan kebutuhan peserta didik.

“Kami ingin guru tidak hanya mengetahui berbagai platform digital, tetapi juga memiliki pengalaman untuk mencoba dan mengembangkan media yang sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Dengan begitu, teknologi benar-benar menjadi bagian dari proses pembelajaran, bukan sekadar tambahan,” jelasnya.

Pelatihan tersebut juga diikuti guru dari berbagai sekolah di Kota Palangka Raya. Di antaranya SMPN 1 P. Raya, SMPN 2 P. Raya, SMPN 6 P. Raya, SMPN 8 P. Raya, SMP NU P. Raya, SMP IT Al-Qonita, SMP Muhammadiyah, SMP Kristen P. Raya, SMP Islam Nurul Ihsan, SMP IT Al Ghazali, SMP Hasanka, dan SMP Islam Darussalam.

Keterlibatan guru dari berbagai satuan pendidikan membuat kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda peningkatan kompetensi. Pertemuan itu sekaligus membuka ruang untuk berbagi pengalaman, bertukar praktik baik, serta membangun jejaring kolaborasi antarsekolah.

Jesiati menilai kolaborasi dengan perguruan tinggi juga memberikan kesempatan kepada sekolah untuk memperoleh perspektif dan pengalaman baru yang dapat diterapkan dalam praktik pendidikan.

“Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Kami ingin terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi dan sekolah-sekolah lain. Ketika guru bertemu, belajar, dan berbagi pengalaman, banyak praktik baik yang bisa saling menguatkan,” tambahnya.

Menurut dia, pertemuan guru dari berbagai sekolah menjadi bagian penting dalam membangun budaya belajar bersama. Setiap sekolah memiliki pengalaman dan tantangan berbeda, sehingga interaksi antarguru dapat menjadi ruang untuk saling belajar sekaligus menemukan gagasan baru.

Dalam pelatihan tersebut, peserta diarahkan mengenal dan memanfaatkan berbagai platform digital untuk membuat media pembelajaran interaktif, khususnya pada konten sains. Praktik secara langsung memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan media yang nantinya dapat diterapkan dalam pembelajaran di kelas.

Jesiati menegaskan peningkatan kompetensi guru merupakan investasi penting bagi keberlanjutan pengembangan sekolah. Menurutnya, budaya belajar tidak hanya perlu ditanamkan kepada peserta didik, tetapi juga kepada para pendidik.

“Kami ingin membangun budaya bahwa guru juga harus terus belajar. Sekolah yang ingin berkembang harus memberikan ruang kepada gurunya untuk belajar, mencoba, berkolaborasi, kemudian membawa hasilnya kembali ke ruang kelas,” ungkapnya.

Melalui kolaborasi bersama UPR dan keterlibatan berbagai satuan pendidikan, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pelatihan satu kali. Jejaring yang terbentuk diharapkan dapat terus berkembang menjadi ruang pembelajaran dan pengembangan kompetensi guru secara berkelanjutan.

Kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya mendorong transformasi pembelajaran yang tidak sekadar mengejar penggunaan teknologi. Lebih dari itu, teknologi diharapkan dapat dimanfaatkan secara kreatif untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan bermakna bagi peserta didik. (TESTI PRISCILLA/y)