PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Transformasi pembelajaran di era digital tidak berhenti pada penggunaan perangkat teknologi di dalam kelas. Tantangan yang lebih besar justru terletak pada kemampuan guru mengubah teknologi menjadi media belajar yang interaktif, kreatif, dan relevan dengan karakter peserta didik.

Hal itu menjadi perhatian dalam kegiatan Transformasi Pembelajaran Abad 21: Pelatihan Pembuatan Media Pembelajaran Interaktif Menggunakan Berbagai Platform Digital pada Konten Sains yang digelar di SMPIT Tiara Az-Zahra Palangka Raya, pada Sabtu, 26 September 2026.

Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda pelatihan bagi guru SMPIT Tiara Az-Zahra. Forum itu mempertemukan pendidik dari berbagai sekolah sekaligus membuka ruang kolaborasi antara satuan pendidikan dan perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan pembelajaran di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Pelatihan menghadirkan Dosen Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Palangka Raya UPR, Ririn Fahrina, S.Pd, M.Pd sebagai narasumber. Peserta berasal dari SMPN 1 Palangka Raya, SMPN 2 Palangka Raya, SMPN 6 Palangka Raya, SMPN 8 Palangka Raya, SMP NU Palangka Raya, SMP IT Al-Qonita, SMP Muhammadiyah, SMP Kristen Palangka Raya, SMP Islam Nurul Ihsan, SMP IT Al Ghazali, SMP IT Hasanka, SMP Al Amin, dan SMP Islam Darussalam.

Berbeda dari pelatihan yang hanya berorientasi pada penyampaian materi, para guru dalam kegiatan tersebut langsung mempraktikkan pembuatan media pembelajaran interaktif menggunakan sejumlah platform digital. Mereka juga berbagi pengalaman mengenai tantangan pembelajaran yang dihadapi di sekolah masing-masing.

Ririn Fahrina mengatakan keterlibatan perguruan tinggi dalam kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada transfer pengetahuan. Menurutnya, pengabdian kepada masyarakat harus mampu membawa ilmu akademik agar dapat dirasakan manfaatnya secara langsung oleh guru.

“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada pihak sekolah yang telah memberikan ruang bagi kami untuk berbagi melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini. Bagi kami, pengabdian bukan hanya tentang menyampaikan materi, tetapi bagaimana ilmu yang kami miliki dapat hadir dan memberikan manfaat secara langsung bagi para guru,” ungkap Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) kepada Borneonews dalam rilisnya pada Minggu, 27 September 2026.

Ia berharap guru tidak berhenti menggunakan pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan, tetapi mengembangkannya sesuai kebutuhan peserta didik. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah juga diharapkan dapat terus diperluas.

“Kami berharap Bapak dan Ibu guru tidak berhenti pada pelatihan hari ini. Apa yang dipelajari dapat dikembangkan dan dipraktikkan sesuai kebutuhan peserta didik di sekolah masing-masing. Mudah-mudahan kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan manfaat yang lebih luas,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala SMPIT Tiara Az-Zahra, Jesiati, menegaskan perubahan pola pembelajaran menuntut guru untuk terus meningkatkan kompetensi. Menurutnya, teknologi tidak akan otomatis membuat pembelajaran menjadi lebih baik apabila tidak diikuti kemampuan guru dalam mengelolanya.

“Transformasi pembelajaran harus dimulai dari guru yang terus mau belajar dan berkembang. Teknologi bukan sekadar alat, tetapi bagaimana guru mampu menggunakannya untuk menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik,” ujarnya.

Jesiati juga menilai sekolah perlu membuka diri terhadap kolaborasi karena pengembangan kompetensi guru tidak dapat dilakukan secara sendiri-sendiri. Pertemuan antarguru dari berbagai sekolah menjadi ruang untuk bertukar pengalaman sekaligus menemukan pendekatan baru dalam pembelajaran.

“Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Kami ingin terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak. Ketika guru dari berbagai sekolah bertemu, belajar, dan berbagi pengalaman, ada banyak hal baik yang bisa saling menguatkan,” tambahnya.

Antusiasme peserta terlihat saat mereka mencoba berbagai platform digital untuk mengembangkan media pembelajaran. Guru SMPIT Tiara Az-Zahra, Azhar Maulana, menyebut pelatihan tersebut membuka wawasan baru dalam memanfaatkan teknologi, di antaranya melalui Blooket dan GeoGebra.

“Saya merasa sangat senang dan mendapatkan pengalaman berharga setelah mengikuti sosialisasi berbagai platform pembelajaran digital, seperti Blooket, GeoGebra, dan platform lainnya. Kegiatan ini menambah wawasan saya tentang pemanfaatan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif, menarik, dan menyenangkan,” ujarnya.

Guru SMP Muhammadiyah, Wisnu Septiawan, mengatakan pelatihan tersebut relevan dengan kebutuhan guru Matematika, terutama dalam mendukung pembelajaran jarak jauh di Kota Palangka Raya.

“Pelatihan pembuatan media pembelajaran interaktif ini sangat bermanfaat bagi saya sebagai guru Matematika, terutama untuk mendukung pembelajaran jarak jauh di Kota Palangka Raya. Terima kasih kepada SMPIT Tiara Az-Zahra yang telah memfasilitasi kegiatan ini,” katanya.

Guru SMP Islam Darussalam, Nina Febriana, juga menilai materi yang diberikan mudah dipahami dan memberikan pengalaman baru dalam mengembangkan media pembelajaran.

“Pelatihannya sangat bermanfaat dan mudah dipahami. Saya mendapatkan pengalaman baru dalam membuat media pembelajaran yang lebih kreatif, menarik, dan interaktif. Terima kasih atas ilmu yang diberikan,” ungkapnya.

Sementara itu, Guru SMP IT Hasanka, Bella Indriawati Wulandari, melihat pelatihan tersebut sebagai bagian dari upaya mempercepat perubahan pola pembelajaran, khususnya dalam menyajikan materi sains kepada generasi yang semakin dekat dengan teknologi digital.

“Kegiatan ini menjadi sarana akselerasi yang berharga bagi para pendidik untuk bertransformasi. Pembelajaran sains yang terkesan teoritis kini dapat dikemas secara dinamis dan adaptif sesuai dengan karakteristik generasi digital. Terima kasih kepada tim pengabdi atas dedikasi dan ilmu yang bermanfaat ini,” tuturnya.

Kolaborasi lintas sekolah dan perguruan tinggi tersebut pada akhirnya menempatkan guru bukan sekadar sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pihak yang menentukan bagaimana teknologi digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Melalui ruang belajar bersama itu, teknologi diharapkan tidak berhenti sebagai perangkat pendukung pembelajaran. Lebih jauh, pemanfaatannya diarahkan untuk membuat pembelajaran sains lebih interaktif, kontekstual, dan mampu menjawab kebutuhan peserta didik di tengah perubahan karakter pembelajaran pada era digital. (TESTI PRISCILLA)