PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya — Buku cerita yang diterbitkan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah mulai dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan literasi di lingkungan pendidikan.

Ketua Tim Pembinaan Bahasa dan Sastra, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Tengah, Rensi Sisilda mengatakan pihaknya telah menjalin kerja sama dengan dinas pendidikan terkait pemanfaatan buku cerita tersebut.

“Jadi kita sudah kerja sama dengan dinas pendidikan yang sudah meminta izin ke Balai Bahasa, bersurat untuk mencetak buku cerita ini,” kata Rensi dalam dialog literasi “Membaca Orangutan, Mengenal Kalimantan: Dialog Literasi untuk Semesta Lestari” pada Selasa, 29 September 2026.

Menurut Rensi, permintaan tersebut dilakukan melalui mekanisme resmi dengan mengajukan surat kepada Balai Bahasa.

Langkah itu memungkinkan buku cerita yang diterbitkan Balai Bahasa dimanfaatkan lebih luas dalam lingkungan pendidikan.

Buku-buku tersebut tidak hanya menjadi koleksi yang tersimpan di perpustakaan. Dengan adanya kerja sama dan pemanfaatan oleh lembaga pendidikan, bahan bacaan dapat lebih dekat dengan peserta didik.

Terlebih, Balai Bahasa Kalteng telah menerbitkan 179 buku dwibahasa sejak 2021. Buku tersebut menggunakan bahasa daerah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Keberadaan versi dwibahasa memungkinkan cerita daerah diperkenalkan kepada siswa sekaligus membantu pembaca memahami isi cerita melalui bahasa Indonesia.

Rensi mengatakan pemanfaatan buku tetap dilakukan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku. Masyarakat secara umum juga dapat membaca, mengunduh, maupun mencetak buku untuk kepentingan pribadi.

Namun, buku tersebut tidak diperuntukkan untuk diperjualbelikan.

Melalui kerja sama dengan dinas pendidikan, Balai Bahasa berharap buku-buku yang telah dihasilkan dapat benar-benar digunakan sebagai bahan literasi. Dengan demikian, penerbitan buku tidak berhenti pada menghasilkan karya, tetapi berlanjut pada pemanfaatannya oleh masyarakat dan dunia pendidikan. (TESTI PRISCILLA/y)