BORNEONEWS, Palangka Raya – Pemulihan kondisi cuaca pada akhir 2026 dinilai menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga produksi dan pasokan CPO Indonesia memasuki 2027.
Pengamat Ekonomi Bidang Perkebunan sekaligus Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan kondisi produksi sawit pada tahun berikutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan cuaca di daerah sentra perkebunan.
“Kalau pada awal Oktober hujan sudah merata di daerah penghasil sawit, kita optimistis kebutuhan CPO dapat dipenuhi selama sisa waktu 2026 dan tahun 2027,” kata Rawing kepada Borneonews pada Kamis, 1 Oktober 2026.
Menurut dia, Kalimantan dan Sumatera saat ini menghadapi tekanan akibat karhutla, suhu panas dan kekeringan.
Kondisi tersebut telah memengaruhi produktivitas tanaman dan diperkirakan menyebabkan penurunan produksi sawit rata-rata sekitar 20-25 persen pada Triwulan III.
Dampaknya dapat berlanjut terhadap pasokan bahan baku pabrik dan produksi CPO apabila kondisi kering berlangsung panjang.
Sementara itu, kebutuhan CPO diperkirakan tetap meningkat.
Untuk pasar domestik, kebijakan biodiesel menjadi salah satu pendorong utama kebutuhan CPO. Sedangkan pasar ekspor tetap diarahkan ke sejumlah negara tujuan seperti India, Jepang dan China.
Karena itu, menurut Rawing, hujan yang merata di daerah sentra sawit menjadi harapan untuk memulihkan produktivitas tanaman.
“Kita berharap kondisi karhutla ini segera berlalu dan hujan kembali merata. Dengan begitu produksi sawit dapat terjaga dan kebutuhan CPO dalam negeri maupun luar negeri dapat dipenuhi,” pungkas Mantan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng ini. (TESTI PRISCILLA/j)









