BORNEONEWS, Muara Teweh – Gerak langkah, pukulan, tangkisan hingga ragam bunga Kuntau kembali hidup di Muara Teweh. Selama tiga hari, 2–4 Oktober 2026, ratusan praktisi bela diri tradisional dari berbagai kecamatan di Barito Utara berkumpul dalam Kuntau Cup III Se-Barito Utara.
Bukan sekadar mencari juara, ajang yang digelar di depan Sekretariat IPSI Barito Utara itu menjadi ruang pertemuan antara olahraga, persaudaraan dan warisan budaya yang telah lama tumbuh di tengah masyarakat Dayak.
Sebanyak 201 peserta ambil bagian dalam kejuaraan tersebut. Mereka datang dari Teweh Tengah, Teweh Timur, Teweh Baru, Lahei, Lahei Barat hingga Gunung Purei.
Ketua Panitia Pelaksana Kuntau Cup III, Debi Fizar, mengatakan kegiatan itu dirancang menjadi agenda rutin untuk mempererat silaturahmi antarpraktisi sekaligus mengukur kemampuan dan kualitas para pesilat Kuntau.
“Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk melestarikan dan mengembangkan seni bela diri Kuntau sebagai salah satu warisan budaya yang berkembang di Barito Utara,” ujar Debi, Sabtu, 3 Oktober 2026.
Dari total peserta, Teweh Tengah menjadi kontingen terbanyak dengan 103 orang. Disusul Lahei 53 peserta, Teweh Baru 20 peserta, Teweh Timur dan Lahei Barat masing-masing 10 peserta serta Gunung Purei lima peserta.
Sekitar 30 panitia bersama wasit dan juri turut terlibat dalam pelaksanaan kejuaraan.
Enam kategori dipertandingkan, yakni Bungaan Perguruan, Kuntau Kreatif, Bapukul Kuntau, Laga/Tanding, Berpasangan dan Berkelompok.
Wasit dan juri yang bertugas merupakan tenaga berlisensi tingkat provinsi, baik untuk kategori laga maupun seni.
Di balik pertandingan, Kuntau menyimpan makna lebih panjang dari sekadar kemampuan bela diri.
Ketua PSMK Huma Ije Pakat Barito Utara, Nordiansyah, menyebut Kuntau merupakan bagian dari budaya masyarakat Dayak yang tumbuh dan berkembang di berbagai wilayah Kalimantan.
“Kuntau bukan hanya olahraga bela diri, tetapi juga bagian dari budaya. Dalam perkembangannya, Kuntau sering ditampilkan dalam acara perkawinan maupun kegiatan adat, termasuk Lawang Sekepeng,” katanya.
Lawang Sekepeng menjadi salah satu ruang di mana Kuntau tidak hadir sebagai pertandingan, melainkan sebagai bagian dari tradisi dan prosesi adat.
Karena itu, Nordiansyah mengingatkan agar perkembangan dunia persilatan tetap berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap nilai-nilai adat.
“Kami mengajak seluruh praktisi Kuntau untuk menjaga dan melestarikan budaya Lawang Sekepeng. Kami juga mengimbau rekan-rekan pesilat yang bukan berasal dari Kuntau agar menghargai ranah adat dan budaya tersebut, sehingga tercipta harmonisasi di antara sesama pesilat,” ujarnya.
Menurutnya, Kuntau Cup juga diharapkan menjadi ruang regenerasi agar seni bela diri tradisional tersebut tetap dikenal dan dipelajari generasi berikutnya.
Ajang itu tidak hanya mempertemukan pesilat senior dan muda, tetapi juga menjadi tempat menguji sejauh mana Kuntau mampu bertahan di tengah perkembangan olahraga bela diri modern.
Nordiansyah berharap Kuntau Cup III mampu meningkatkan kualitas sekaligus jumlah praktisi Kuntau di Barito Utara dan Kalimantan Tengah.
Ia juga berpesan kepada seluruh peserta agar mengikuti setiap pertandingan dengan sungguh-sungguh dan tetap menjunjung tinggi sportivitas.
Di arena Kuntau Cup III, setiap gerakan akhirnya bukan hanya soal menang atau kalah. Ada tradisi yang sedang dijaga, ada pengetahuan yang diwariskan dan ada identitas budaya yang terus diperkenalkan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. (RAMADHANI/j)









