PANGKALAN BUN –

BORNEONEWS, Pangkalan Bun – Luasan lahan terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) mencapai 2.887,4 hektare hingga Senin, 5 Oktober 2026. Pada hari yang sama, tambahan luasan terbakar tercatat 33,5 hektare.

Data tersebut berdasarkan pemantauan Sipongi dengan jumlah titik panas (hotspot) yang mencapai 3.260 titik.

Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kobar, Samuel, mengatakan kondisi cuaca masih menjadi tantangan dalam penanganan karhutla. Berdasarkan informasi BMKG untuk dasarian atau periode 10 hari ke depan, Kobar masih berpotensi mengalami kekeringan.

“Informasi BMKG untuk dasarian 10 hari ke depan, masih terjadi potensi kekeringan di wilayah Kabupaten Kotawaringin Barat. Untuk membantu penanganan karhutla, sangat perlu hujan,” kata Samuel, Selasa, 6 Oktober 2026.

Menurutnya, kondisi kemarau diperkirakan masih berlangsung hingga akhir Oktober 2026. Sementara peluang hujan pada periode tersebut diperkirakan masih kecil.

“Jadi untuk bulan ini sampai akhir Oktober masih diprediksi kemarau. Kemudian untuk hujan diperkirakan kecil kemungkinannya,” ujarnya.

Samuel menyebutkan, berdasarkan perkiraan cuaca, hujan diprediksi mulai terjadi pada November 2026. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu proses penanganan karhutla yang masih berlangsung di wilayah Kobar.

“Perkiraan hujan diprediksi pada November 2026. Hujan sangat diperlukan untuk membantu penanganan karhutla,” tuturnya.

Dengan kondisi cuaca yang masih kering, BPBD bersama tim gabungan terus melakukan penanganan dan pemantauan terhadap potensi karhutla di sejumlah wilayah Kobar. Masyarakat juga diminta tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. (DANANG/y)