BORNEONEWS, Palangka Raya – Budidaya udang vaname di Kabupaten Sukamara mulai menunjukkan hasil ekonomi yang besar.
Dari kawasan tambak yang dikelola UPT BLUD Perikanan Budidaya Air Payau dan Laut (PBAPL), pendapatan diproyeksikan mencapai hingga Rp32 miliar.
Produksi hingga periode terakhir juga telah menembus lebih dari 300 ton dan diperkirakan bisa melampaui 400 ton sampai akhir 2026.
Kepala UPT BLUD PBAPL, Wahyu Martha Lukyanto, mengatakan kapasitas produksi ideal dari sarana yang tersedia saat ini berada di kisaran 400 hingga 500 ton per tahun.
“Untuk saat ini produksi sudah di atas 300 ton. Kalau sampai akhir tahun, estimasi kami bisa melebihi 400 ton,” katanya, Rabu, 7 Oktober 2026.
Saat ini terdapat 72 kolam budidaya. Dari jumlah tersebut, 54 kolam telah ditebar dan sisanya ditargetkan segera menyusul.
Setiap kolam mampu menghasilkan sekitar 3,5 hingga 4 ton udang, tergantung kondisi dan kapasitasnya.
Satu siklus budidaya membutuhkan waktu sekitar lima bulan lebih jika dihitung mulai dari persiapan kolam, pengeringan, pemeliharaan hingga panen.
“Makanya untuk siklusnya sekitar dua kali dalam satu tahun,” jelas Wahyu.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kalteng, Sri Widanarni, mengatakan hasil budidaya tersebut kini mulai memberi kontribusi terhadap pendapatan daerah.
“Karena dari hasil budi daya ini sudah bisa berkontribusi untuk peningkatan pendapatan daerah,” ujarnya.
Gubernur Kalteng Agustiar Sabran menilai potensi unggulan daerah seperti budidaya udang vaname perlu terus dioptimalkan.
“Ini menjadi salah satu upaya kita dalam memacu pendapatan dengan mengoptimalkan masing-masing potensi yang dimiliki daerah,” tegasnya.
Dengan produktivitas yang terus meningkat, tambak udang vaname Sukamara kini tidak hanya menjadi kawasan budidaya, tetapi juga mulai menjadi salah satu sumber pendapatan daerah dari sektor perikanan.









