BORNEONEWS, Sampit - Helikopter water bombing yang disiapkan untuk membantu pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) belum dapat beroperasi karena jarak pandang di tengah kabut asap berada di bawah batas aman penerbangan.
"Kalau asap masih tebal. Yang asap tebal ini sebagian memang berasal dari kebakaran dalam perkotaan, Kecamatan Pulau Hanaut dan Seranau. Kemudian juga ada sebagian ada di daerah Bagendang dan Ujung Pandaran," kata Koordinator Lapangan Satgas Karhutla Kotim Rihel, Kamis, 8 Oktober 2026.
Titik-titik kebakaran yang masih menghasilkan asap berada di sejumlah wilayah dengan karakteristik berbeda. Sebagian lokasi bahkan sulit dijangkau karena berada cukup jauh dari akses jalan.
"Rata-rata jarak jangkauannya sangat jauh dari posisi jalan. Armada pun, kalau seperti di Seranau, itu jalan kaki bisa 4-7 km," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat pemadaman dari darat tidak mudah dilakukan. Selain jarak yang jauh, petugas juga menghadapi keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran.
Di tengah kendala pemadaman dari darat, Satgas Karhutla Kotim sebenarnya memiliki dukungan helikopter water bombing yang saat ini standby di Bandara H Asan Sampit. Namun, armada udara tersebut belum dapat digunakan karena kondisi jarak pandang yang terlalu rendah.
"Sementara kita ada helikopter water bombing tetapi tidak bisa beroperasi karena visibility-nya rata-rata di bawah 1.000 meter. Sementara untuk penerbangan helikopter minimal 4.500-5.000 meter," bebernya.
Rihel menjelaskan kondisi tersebut berkaitan dengan keselamatan penerbangan. Kabut asap yang tebal tidak hanya menghambat pandangan menuju lokasi kebakaran, tetapi juga menyulitkan pilot melihat kondisi di sekitar area operasi.
"Kalau di bawah itu (jarak pandang) mereka tidak akan mau terbang karena ada risiko yang akan terjadi. Mungkin itu adalah standar operasi untuk operasional helikopter water bombing," imbuhnya.
Lanjutnya, penerbangan tidak bisa dipaksakan ketika kondisi jarak pandang berada di bawah batas aman. Terlebih, helikopter membutuhkan visibilitas yang cukup untuk menentukan titik pengambilan air maupun lokasi penjatuhan air.
"Kemudian juga seandainya dipaksakan risikonya besar, sungai pun tidak kelihatan untuk sumber air," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)









